Cerita Sex: Tante Weny

No comment 1929 views

Cersex Cerita Sex, Sex Hot, Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Ngentot Cerita Sex: Tante Weny Hot Terbaru 2016 – Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi.

cerita-sex-tante-wena-300x300

Cerita Sex: Tante Weny – Ist

Sex Hot 2016 | Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan. Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil angkot minimal 5 kali, itu juga dengan bantuan kendaraan roda dua yaitu ojeg.
Bagi Ferry sangat beruntung bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMK. Tapi lepas dari SMK kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan dihadapan kedua orang tuanya.
Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya. Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Ferry bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu.
Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.
“Ferry..” sapa ibunya ketika Ferry sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota.
Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah Ferry untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua Ferry sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Ferry sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Ferry memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.
Oomnya yang bernama Budiman memang paling mapan dan kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari 4 keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha di bidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil. Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Ferry sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Ferry yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.
Menurut ibu Ferry, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak. Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Ferry dua tahun dan ia masih SMK di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada di atas 50 tahun.
Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Ferry langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah.
Belakangan diketahui namanya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.
“Selamat siang Pak,” Tegur Ferry kepada salah satu satpam yang ada dua orang.
“Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu,” jawab satpam yang bernama Asep.
“Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?”
“Bapak Budiman yang mana Dik,” tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur 20 tahunan.
“Anu Pak, apa ini PT. Rido,” tanya Ferry menyusul keraguan satpam.
Karena sebetulnya Ferry juga belum pernah tahu dimana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.
“Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini,” tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT. Rido dan siapa pemiliknya.
“Adik ini siapa,” tanya satpam kepada Ferry, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
“Saya Ferry Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang.”
“Keponakan,” tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.
Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Ferry sambil memberikan selamat datang di kota Bandung.
“Ferry.. Apa masih ingat sama Bapak,” kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.
Mimik Ferry jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.
“Maaf Pak, Ferry Sudah lupa dengan Bapak,” kata Ferry sambil terus mengigat-ingat.
Pak Dadi terus menerangkan dirinya,
“Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Ferry berumur kurang lebih 5 tahun.” Ferry jadi bingung, “Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itukan sudah bertahun-tahun.” Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman.
Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.
“Aduh Dik Ferry, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Ferry karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Ferry. Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu,” sambung Pak Dadi melihat ekspresi Ferry yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal.
Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,
“Jangan takut Dik Ferry pokoknya kamu tidak akan ada masalah,” tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semuanya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa di bidang apapun.
Mendengar itu Ferry menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan Ferry sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Ferry yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Ferry dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.
Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Ferry dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Ferry menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata. Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merk Mercy terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung.
Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat megah dan dijaga oleh satpam. Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya.
Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Ferry. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya. Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Ferry, sedangkan Ferry ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah.
Setelah Tante Weny datang sambil tersenyum menyapa Ferry, Bi Enung pun meninggalkan Ferry sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Ferry.
“Tante sudah menunggu dari tadi Ferry,” bisiknya sambil menggenggam tangan Ferry tanda mengucapkan selamat datang. “Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa”, lanjut Tante Weny yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah.
Wajah Tante Weny yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.
“Tante sudah tahu bahwa Ferry akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk.” Obrolan pun mengalir dengan penuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal.
Tante Weny dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Ferry. Gerakan-gerakan tubuh Tante Weny yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Ferry membuat Ferry salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Ferry pusing tujuh keliling.
Meskipun Tante Weny telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.
“Nah, itu vera,” kata Tante Weny sambil membawa Ferry ke ruang tengah.
Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil tersenyum, Tante Weny memperkenalkan Ferry kepada vera. Mendapat teman baru dalam rumah itu vera langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri.
“Nanti Kak Ferry tidurnya sama vera ya Kak.” Mendapat pertanyaan itu Ferry dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Ferry.
Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik. Lalu Tante Weny menerangkan kelakuan vera yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Ferry hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Ferry, ia sudah menaruh hati pada vera yang mempunyai wajah yang cantik dan putih bersih itu.
Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Weny, Ferry masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar vera. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Weny menempati kamar yang paling depan sedangkan Ferry memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar vera berhadapan dengan kamar Ferry. Setelah membuka baju yang penuh keringat, Ferry melihat-lihat pemandangan belakang rumah.
Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikaruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.
Hari-hari selanjutnya Ferry semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Weny Yang ramah dan seksi, juga kelakuan vera yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kontol Ferry berdiri. Ferry semakin tahu tentang keadaan Tante Weny yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Weny dengan mesranya menggandeng Ferry, tapi Ferry tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang.
Tapi yang membuat kaget Ferry ketika di dalam mobil, Tante Weny mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Ferry kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Weny menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya. Ferry tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghayalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kontol Tante Weny.
Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Weny dengan beWeny tiduran di atas paha Ferry sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Ferry yang mengetahuinya. Sambil bercerita, lipatan paha Tante Weny yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya merosot ke bawah. Ferry dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kontol Tante Weny yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. Ferry menelan ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi.
Ketika Ferry akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Ferry untuk terus merabanya.
Ferry menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, “Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante,” Tante Weny hanya berkata,
“Ferry, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Ferry tidak kasihan sama Tante.” Tangan Tante Weny dengan beWeny membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar.
Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. Melihat Ferry yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Weny memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Ferry jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu. Kedekatan Ferry dengan vera semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit vera selalu meminta bantuan Ferry. Pada saat itu vera mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Ferry.
Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Weny yang menolak melakukan itu. Ferry keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupinya. Dengan jelas vera melihat batang kontol Ferry yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, vera membalikkan badannya.
Ferry hanya tersenyum sambil berkata,
“Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda Ferry sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam.
Kebiasaan itu dilakukan agar batang kontolnya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas. Ferry bergerak mendekati vera dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil.
“Ahh, geli Kak Ferry.. Kak Ferry sudah pake celana yah,” tanya vera.
“Belum,” jawab Ferry menggoda vera.
“Ahh, cepet dong pake celananya. vera mau minta tolong Kak Ferry mengerjakan PR,” rengek vera sambil tangan kirinya meraba belakang Ferry.
Melihat rabaan itu, Ferry segaja memberikan batang kontolnya untuk diraba. vera hanya meraba-raba sambil berkata,
“Ini apa Kak, kok kenyal.” Mendapat rabaan itu batang kontol Ferry semakin menegang dan dalam pikirannya kalau dengan vera aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tanteku digarap olehku.
Rabaan vera berhenti ketika batang kontol Ferry sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Ferry kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kontolnya yang sudah menegang. Tangan yang tadi digunakan meraba batang kontol Ferry kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan vera membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Ferry sudah memakai celana pendek.
“Nah, gitu dong pake celana,” kata vera sambil mencubit dada Ferry yang menempel di susu kecil vera.
“Udah dong meluknya,” rintih vera sambil memberikan buku Matematikanya. Saling memeluk antara Ferry dan vera sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Ferry merasakan kenikmatan dalam memeluk vera, vera tidak merasakan apa-apa mungkin karena vera masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor.
Ferry langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Ferry segaja memilih itu karena vera sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kontol Ferry terasa hangat dibuatnya. Dan memang seperti dugaan Ferry, vera tiduran di dada Ferry. Pada saat itu vera menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. vera tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Ferry.
Sambil mengerjakan PR, pikiran Ferry melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada vera bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada vera. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Ferry dan vera. PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, vera terseyum gembira. Terlihat dengan jelas susu vera yang kecil. Pikiran Ferry meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat.
Ketegangan Ferry semakin menjadi ketika batang kontolnya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul vera yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Ferry menerangkan tersebut ada di bawah vera dan pinggul vera sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif. Gerakan badan vera yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kontolnya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih.
Hal itu membuat nafas Ferry naik turun. vera tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kontol Ferry, malah vera semakin terus bermanja-manja dengan Ferry yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Ferry semakin kalang kabut ketika vera menggerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kontolnya semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar Ferry meraba gundukan kontol vera yang terbungkus oleh CD putih.
Bukit kontol vera yang hangat membuat Ferry semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.
“Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.” Ferry membalikkan badannya sehingga bukit kontol vera tepat menempel di batang kontol Ferry.
Dalam keadaan itu vera hanya mendekap Ferry sambil terus berkata,
“Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”
“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Ferry sambil terus merapatkan batang kontolnya ke bukit kontol vera yang masih terbungkus CD warna Putih.
Pantat vera terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Ferry semakin panas dingin dibuatnya. vera hanya bertanya apa syaratnya kata vera sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Ferry. Dalam posisi seperti itu batang kontol Ferry yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kontol vera yang terasa hangat. Ferry tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut vera.
vera hanya diam dan terus menghidar ciuman itu.
“Kaak.. apa dong syaratnya”, kata vera manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kontolnya terus menyentuh-nyentuh batang kontol Ferry.
Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang vera tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun.
“Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.” Mendengar itu vera hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus push-up 1000 kali.
Konsentrasi Ferry dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kontolnya agar tetap berada di bawah bukit kontol vera yang sering terlepas karena vera yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. vera terus mendekap badan Ferry sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Ferry. Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Ferry menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kontol vera. Ferry semakin tidak tahan dengan kedaan itu dan langsung meraba-raba pantat vera.
Ketika Ferry akan meraba susu vera. vera bangkit dan terus melihat ke wajah Ferry, sambil berkata,
“PR-nya sudah Kaak.. Ferry,” sambil menguap.
Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Ferry, vera langsung memeluk Ferry erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Ferry begitu saja, Ferry langsung memeluk vera berguling-guling sehingga vera sekarang berada di bawah Ferry.
Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu vera berkata,
“Masa Kakak meluk vera nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan Ferry lontarkan agar vera tetap mau dipeluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kontol Ferry bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu vera berhasil lepas dari pelukan Ferry sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.
“Aduh, Gila si vera masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman Ferry dalam hati sambil terus memegang batang kontolnya.
Ferry berusaha menetralisir batang kontolnya agar tidak terlalu tegang.
“Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan vera cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.” Ferry memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya.
Itulah pola pikir Ferry yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa vera. Ketegangan batang kontol Ferry terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Ferry keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Weny masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Weny yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya.
Keadaan itu terlihat karena Tante Weny duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan. Ketegangan Ferry semakin memuncak melihat keindahan tubuh Tante Weny yang sangat seksi dan mulus itu.
“Kamu kenapa belum tidur Ari,” kata Tante Weny sambil menuangkan segelas air susu untuk Ferry.
“Anu Tante, tidak bisa tidur,” balas Ferry dengan gugup.
Memang Tante Weny yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Ferry, ia tidak peduli dengan keberadaan Ari malah ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Ferry yang sudah sangat terangsang.
“Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Ferry.”
“Tidak apa-apa Tante, Ferry mengerti tentang hal itu,” jawab Ferry sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah di luar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan vera yang membuat batang kontolnya semakin menegang tidak tentu arah.
“Oom kemana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya Ferry mengisi perbincangan.
“Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante Weny.
Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Weny, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya. Ferry dan Tante Weny duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Ferry, Tante Weny membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kontolnya. Mata Ferry melongo tidak percaya.
Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Weny, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Weny tidak menggunakan celana dalam. kontolnya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Weny terus menggaruk-garuk di seputar kontolnya itu karena merasa ada yang gatal.
Melihat itu Ferry semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kontolnya yang semakin menegang.
“Kamu kenapa Ferry,” tanya Tante Weny yang melihat wajah Ferry keluar keringat dingin.
“Nggak Tante, Ferry cuma mungkin capek,” balas Ferry sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Weny.
Setelah merasa agak baikan di sekitar kontolnya, Tante Weny segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kontolnya yang merekah. Melihat Ferry semakin menegang, Tante Weny tersenyum dan mempersilakan Ferry untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.
Ketegangan Ferry semakin memuncak dan Ferry tidak beWeny kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu.
“Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.” Melihat Ferry yang sangat tegang itu Tante Weny hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.
Sebelum sampai ke paviliun belakang Ferry jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak sengaja ia mendengar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Ferry terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Ferry mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Ferry dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.
Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Ferry melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kontol Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Ferry. Astri terus mengulum batang kontol Pak Dadi.
Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah merosot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kontol Pak Dadi semakin mesra dikulum oleh Astri. Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri.
Astri yang masih melekat di badan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kontol Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi. Sebelum memasukkan batang kontolnya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kontol Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kontol suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.
Dengan perlahan batang kontol Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kontol Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya. Memang beradunya batang kontol Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya.
Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Ferry semakin panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Weny memainkan kontol Ferry yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kontolnya.
“Tante, kapan Tante datang”, suara Ferry perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi.
Tangan Tante Weny terus menggandeng Ferry menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kontol Ferry yang sudah menegang sejak tadi. Sesampainya di ruang tengah, Ferry duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Weny, sementara Tante Weny tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Ferry dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kontol Ferry yang sudah menegang.
“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante Weny memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada di antara kedua selangkangan Ferry terus digesek-gesek ke batang kontol Ferry. “Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Weny,
“Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kontol Ferry.
Ferry semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada di luar batas kemanusiaan.
“Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan Ferry, Tante Weny malah tersenyum,
“Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.” Gila, dalam pikiranku mana mungkin aku memberitahu Oomku.
Gerakan kepala Tante Weny semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kontol Tante Weny terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kontol gadis seumur vera. Ferry sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Weny. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.
Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kontol Ferry terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lembut dan putih itu. Melihat Keberhasilannya itu Tante Weny membalikkan badan dan sekarang Tante Weny telungkup di atas sofa dengan kontolnya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.
Tangan Tante Weny terus memainkan batang kontol Ferry dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
“Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante Weny mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Ferry dengan kedua tangannya.
“Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apapun Riee,” bisik Tante Weny dengan nafas yang berat.
Mendengar ejekan itu hati Ferry semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi. Mulut Tante Weny yang merekah telah mengulum batang kontol Ferry dengan liarnya dan terlihat badan Tante Weny seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt.
“Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini.. ayo dong gerakin tanganmu.” Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali.
Sehingga tangan Ferry semakin beWeny menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kontol Ari menegang. Ferry mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Tante Weny terus semakin menggila dan terus mengulum kepunyaan Ferry dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Weny yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kontol Ferry. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Ferry memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Ferry dan tantenya seperti huruf T. Tangan Ferry semakin beWeny mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas.
Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kontol tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.
“Ahkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kontolnya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya.
Ketika ia merasakan akan orgasme.
“Ferry.. Tante sudah tidak tahan lagi nich..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kontolnya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kontol Ferry sehingga Ferry dibuatnya tidak berdaya.
“Aduh. aduh.. Tante nikmat sekalii..” erang tantenya semakin menjadi-jadi.
Hampir 3 kali Tante Weny merintih sambil mengerang.
“Aduuh Riee.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante Weny sambil terus menggesek-gesekkan bibir kontolnya ke bantal kecil itu.
Ferry meraba kontol tantenya, ternyata kontol Tante Weny sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.
“Ferrye.. nah itu terus Riee.. terus..” erang Tante Weny sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kontol Ferry. “Kamu kok kuat sekali Riee,” bisik tante Weny dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kontol Ferry.
Tante Weny setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Ferry keluar sperma.
Ferry berguman,
“Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”
Melihat batang kontol Ferry yang masih tegak Tante Weny semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Ferry yang masih melekat di badannya.
“Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante Weny sambil membuka baju Ferry perlahan namun pasti.
Setelah baju Ferry terbuka, Tante Weny membuka juga celana pendek Ferry agar posisinya tidak terganggu. Lalu Tante Weny membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Ferry. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat trampil dalam memainkan batang kontol laki-laki.
Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kontol Ferry sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kontol Ferry dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah. Dengan bantuan susunya yang besar, Tante Weny menggesek-gesek susunya di belahan batang kontol Ferry.
Dengan keadaan itu Ferry mengerang kuat sambil berkata,
“Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan Ferry, Tante Weny tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya.
Melihat Ferry yang akan keluar, Tante Weny dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kontol dengan sangat liar. Sehingga warna batang kontol Ferry menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kontolnya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. Ferry menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata,
“Terus Tante.. terus Tante..”, Dan Ferry pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kontolnya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Weny yang merekah.
Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Weny kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kontol Ferry yang membuat Ferry meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kontol itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil. Melihat itu Tante Weny semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kontol Ferry sampai keluar bunyi slurp.., slurp.., akibat sedotannya.
Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kontol Ferry, lalu Tante Weny kembali mengulum batang kejantanan Ferry dengan mulutnya yang seksi. Melihat batang kontol Ferry yang masih memberikan perlawanan, Tante Weny bangkit sambil berkata,
“Gila kamu.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir 4 kali kamu masih menantangnya.” Mendengar tantangan itu, Ferry hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Weny mendekat ke hadapan Ferry sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kontol Ferry.
Sebelum memasukkan batang kontol Ferry ke liang kewanitaannya, Tante Weny terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Ferry pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Weny semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kontol Ferry sekarang tergeser ke belakang sehingga batang kontol Ferry tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.
Mendapat perlakuan itu Ferry mengerang kenikmatan.
“Aduuh Tante..” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama.
“Clepp..” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Weny mendorongnya masuk ke lembah surganya.
Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Ferry bergetar. Mata Tante Weny dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Weny telah berhasil menelan semua batang kontol Ferry. Tante Weny pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.
“Ferrye..” rintihan Tante Weny semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kontol Ferry.
Tante Weny diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kontol Ferry yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.
“Riee, Tante sudah tidak kuat lagi.. Sayang..” desah Tante Weny sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan.
Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan permainan itu Ferry mendesir,
“Aduh Tante.. terus Tante..” mendengar itu Tante Weny terus menggeser-geserkan pantatnya.
Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kontol Ferry dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kontol Ferry dengan liang senggama Tante Weny. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kontol Ferry jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman. Goyangan pantatnya semakin liar dan Ferry mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu.
Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Weny dengan paha Ferry menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan,
“Prut.. prat.. pret..” Tangan Ferry merangkul tantenya dengan erat.
Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Weny mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kontol Ferry.
Tante Weny mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Weny berkata di dekat telinga Ferry.
“Ferrye..” suara Tante Weny bergetar,
“Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaah”.
“Iya Tante..” jawab Ferry.
Selang beberapa menit Ferry merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui,
“Kamu mau keluar yaa.” Ferry merangkul Tante Weny dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Weny rangkulannya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kontol Ferry.
Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Ferry keluar dengan keras,
“Tantee.. Tantee..” dan begitu juga Tante Weny mengerang keras,
“Riee..”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kontol dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kontol Ferry masuk ke dalam liang senggama Tante Weny.
Akhirnya Ferry dan Tante Weny diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Weny. Masih dalam posisi Tante Weny duduk di pangkuan Ferry. Tante Weny tersenyum,
“Kamu hebat Ferry seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”
“Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante Weny.
Ferry hanya tersenyum digoda begitu. Tante Weny lalu mencium kening Ferry. Kurang lebih lima menit batang kontol Ferry yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Weny, lalu Tante Weny bangkit sambil melihat batang kontol Ferry. Melihat batang kontol Ferry yang mengecil, Tante Weny tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kontolnya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kontol Ferry tidak berdiri lagi.
Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Weny meraba-raba batang kontol Ferry dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kontol Ferry tidak mau berdiri lagi.
“Aduh untung batang kontolmu Riee.. tidak hidup lagi,” bisik Tante Weny mesra sambil berdiri di hadapan Ferry, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Riee” lanjutnya sambil tersenyum dan duduk di sebelah Ferry.
Sesudah Tante Weny dan Ferry berpagutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing. Pagi-pagi sekali Ferry bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Ferry jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Ferry tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan di waktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.
Lalu Ferry pun berjalan menuju kolam, tidak dibayangkan sebelumnya ternyata Tante Weny ada di kolam sedang berenang. Tante Weny mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Ferry. Tante Weny mengajaknya berenang.
Ferry hanya tersenyum dan berkata,
“Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante Weny hanya tersenyum, soalnya Tante Weny mengetahui Ferry tidak menggunakan celana renang.
“Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante Weny.
Tantenya yang terus meminta Ferry untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru. Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kontol Ferry yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Ferry sambil mendekati Tante Weny, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Ferry. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Weny menjadi kejaran Ferry yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Weny dapat juga tertangkap.
Ferry langsung memeluknya erat-erat, pelukan Ferry membuat Tante Weny tidak dapat lagi menghindar.
“Udah akh Ferry.. Tante capek,” seru mesra Tante Weny sambil membalikkan badannya.
Ferry dan Tante Weny masih berada di dalam genangan kolam renang.
“Kamu tidak kuliah Riee,” tanya Tante Weny.
“Tidak,” jawab Ferry pendek sambil meraba bukit kontol Tante Weny.
Terkena rabaan itu Tante Weny malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Ferry. Mendapatkan perlakuan itu Ferry menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya.
Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga.
“Sudah ah.. Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante Weny sambil sedikit menjauh dari Ferry.
Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Weny tertawa geli melihat Ferry yang celana dalamnya telah merosot di antara kedua kakinya dengan batang kontolnya yang sudah bangkit dari tidurnya.
“Kamu tidak sadar Ferry, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu Ferry langsung mendekati Tante Weny sambil mendekapnya.
Tante Weny hanya tersenyum.
“Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata
Tante Weny sambil meraba batang kontol Ferry yang sudah menegang kembali.
Mendengar itu Ferry hanya melongo kaget.
“Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata Ferry sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Weny yang berwarna merah.
Mendapat perlakuan itu Tante Weny hanya diam dan ia terus mencium Ferry sambiil berkata,
“Iyaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.” Tante Weny membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Ferry.
Batang kontol Ferry langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Weny yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Ferry. Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Weny telah melahap semua batang kontol Ferry dan dirasakannya batang kontol Ferry sudah menegang. Tante Weny menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Ferry sambil pergi dan tersenyum manis meninggalkan Ferry yang tampak kebingungan dengan batang kontolnya yang sedang menegang.
Mendapat perlakuan itu Ferry menjadi tambah bernafsu kepada Tante Weny, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Ferry langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya. Setelah di kamar, Ferry langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung Ferry teringat akan keberadaan kamar vera.
Ferry lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi.
“vera.. vera.. vera..” teriak Ferry sambil mengetuk pintu kamar vera.
“Masuk Kak Ferrye, tidak dikunci.” balas vera dari dalam kamar.
Didapatinya ternyata vera masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kontolnya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Ferry dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.
“Ada apa Kak Ferry,” kata vera sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kontolnya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Ferry.
“Anu vera.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Ferry airnya tidak keluar.” Memang vera melihat dengan jelas bahwa badan Ferry dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan vera bukannya badan tapi vera memperhatikan di antara selangkangannya yang kelihatan mencuat.
Iseng-iseng vera menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Ferry yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Ferry pun langsung memperlihatkannya sambil memegang batang kontolnya,
“Ini namanya penis.. Sayang,” kata Ferry yang langsung menuju kamar mandi karena melihat vera menutup wajahnya dengan selimut.
Melihat batang kontol Ferry yang sedang menegang itu vera membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh vera yang membayangkan batang kontol Ferry dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata vera terus memandang Ferry yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kontolnya. Akhirnya karena vera sudah di puncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya. Dengan beWenynya vera pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Ferry.
Melihat kedatangan vera ke kamar mandi, Ferry hanya tersenyum.
“Kamu juga mau mandi Yun,” kata Ferry sambil mencubit pinggang vera
vera yang sudah di puncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kontol Ferry yang masih mengeras.
“Kak boleh nggak vera mengelus-elus barang itu,” bisik vera sambil menunjuknya dengan jari manisnya.
Mendengar permintaan itu Ferry langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya. Dalam pikiran Ferry, vera sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Ferry langsung mendekatkan batang kontolnya ke tangan vera dan menuntun cara mengelus-elusnya.
Tangan vera yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Ferry kesakitan.
“Aduh.. jangan keras-keras dong vera, nanti batang kontolnya patah.” Mendengar itu vera menjadi sedikit kaget lalu
Ari membantunya untuk memainkan batang kontolnya dengan lembut.
Tangan vera dituntunnya untuk meraba batang kontol Ferry dengan halus lalu batang kontol Ferry didekatkan ke wajah vera agar mengulumnya. vera hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Ferry memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice cream, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut vera langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kontol Ferry lalu vera memasukkan semua batang kontol Ferry ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik vera terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.
Setelah sedikit tenang, vera mengulum lagi batang kontol Ferry tanpa diperintah sambil pinggul vera bergoyang menyentuh kaki Ferry. Melihat kejadian itu Ferry akhirnya menghentikan kuluman vera dan langsung mengangkat vera dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat vera dipeluk oleh Ferry dan vera pun membalas pelukan Ferry.
Bibir vera yang polos tanpa lipstik dicium Ferry dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu vera untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Ferry. Bila Ferry menjulurkan lidahnya maka vera pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Ferry. Dengan permainan itu vera sangat menikmatinya apalagi Ferry yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman. Kecupan vera kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas.
“Pek.. pek..” suara bibir vera mengeluarkan suara yang membuat Ferry semakin terangsang. Mendengar suara itu Ferry tersenyum sambil terus memagutnya.
Tangan Ferry dengan trampil telah membuka daster putih yang dipakai vera. Dengan gerakan yang sangat halus, Ferry menuntun vera agar duduk di pinggir ranjang dan vera pun mengetahui keinginan Ferry itu. Bibir vera yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Ferry dengan posisi vera tertindih oleh Ferry. Tangan vera terus merangkul Ferry sambil bukit kontolnya menggesek-gesekkan sekenanya. Lalu Ferry membalikkan tubuh vera sehingga kini vera berada di atas tubuh Ferry, dengan perlahan tangan Ferry membuka BH putih yang masih melekat di tubuh vera.
Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan vera, Ferry pun membuka CD putih yang membungkus bukit kontol vera dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan panjang keluar dari mulut vera.
“Auu..” sambil mendekap Ferry keras-keras.
Melihat itu Ferry semakin bersemangat. Setelah Ferry berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan vera, terlihat vera sedikit tenang iapun kembali membalikkan vera sehingga ia sekarang berada di atas tubuh vera. Ferry menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kontol vera yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kontol vera yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil.
Kaki vera direnggangkan oleh Ferry. Pagutan Ferry berganti pada bibir kecil kepunyaan vera. Pantat vera terangkat dengan sendirinya ketika bibir Ferry mengulum bukit kontol kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kontol perawan membuat batang kontol Ferry semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Ferry kasihan melihat vera karena kontolnya belum juga merekah. Jilatan bibir Ferry yang mengenai klitoris vera membuat vera menjepit wajah Ferry. Semburan panas keluar dari bibir bukit kontol vera. vera hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkannya.
Lalu Ferry merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kontolnya yang sudah terlalu lama menegang. Ferry menarik tubuh vera agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki vera menyentuh lantai dan Ferry berdiri di antara kedua paha vera. Melihat kondisi tubuh vera yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kontol vera yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Ferry menahan nafas. Ferry berdiri, dan batang kontolnya yang besar itu diarahkan ke bukit kontol vera. Melihat itu vera sedikit kaget dan merasa takut vera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Melihat gejala itu Ferry hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha vera sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kontolnya di bibir kontol vera. Sambil menggesek-gesek batang kontol, Ferry kembali mendekap vera sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Ferry yang membuka tangannya, vera langsung merangkulnya dan mencium bibir Ferry.
Pagutan pun kembali terjadi, bibir vera dengan lahapnya terus memagut bibir Ferry. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut vera.
“Aduhh.. Kaak..” erang vera sambil merangkul tubuh Ferry dengan keras.
Ferry meraba-raba bukit kontol vera dengan batang kontolnya setelah yakin akan lubang kontol vera, Ferry mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Ferry masuk ke liang senggama vera. vera mengerang kesakitan,
“Kak.. aduh sakit, Kak..” Mendengar rintihan itu, Ferry membiarkan kepala kontolnya ada di dalam liang senggama vera dan Ferry terus memberikan pagutannya.
Kuluman bibir vera dan Ferry pun berjalan lagi. Dada Ferry yang besar terus digesek-gesekkan ke susu vera yang sudah mengeras. vera yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat. Kepala kontol Ferry yang besar baru masuk ke liang kewanitaan vera, tapi jepitan liang kontol vera begitu keras dirasakan oleh batang kontol Ferry.
Sambil mencium telinga kiri vera, Ferry kembali berusaha memasukkan batang kontolnya ke liang senggama vera.
“Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu Ferry berkata kepada vera.
“Kamu sakit vera,” bisik Ferry di telinga vera.
“Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..” Mendengar penjelasan itu, Ferry terus memasukkan batang kontolnya sehingga sekarang kepala kontolnya sudah masuk semua ke dalam liang senggama vera.
Batang kontol Ferry sudah masuk ke liang senggama vera hampir setengahnya. Batang kontolnya sudah ditelan oleh liang kontol vera, kaki vera semakin diangkat dan tertumpang di punggung Ferry. Tiba-tiba tubuh vera bergetar sambil merangkul Ferry dengan kuat.
“Aduhh..” dan cairan hangat keluar dari bibir kontol vera, Ferry dapat merasakan hal itu melalui kepala kontolnya yang tertancap di bukit kontol vera.
Lipatan paha vera telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua. Mendapat guyuran air di dalam bukit kontol itu, Ferry lalu memasukkan semua batang kontolnya ke dalam lubang senggama vera. Dengan satu kali hentakan.
“Preet..” vera melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Ferry.
“Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil vera setelah seluruh batang kejantanan Ferry berada di dalam lembah kenikmatan vera.
“Kak, Badan vera sesak, sulit bernafas,” kata vera sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.
Mendengar itu lalu Ferry membalikkan tubuh vera agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu vera seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Ferry sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya. vera dan Ferry terdiam kurang lebih lima menit.
“vera, sekarang bagaimana badanmu,” kata Ferry yang melihat vera sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan.
“Udah agak enakan Kak,” balas vera sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Mendapatkan serangan itu Ferry langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Ferry dari atas ke bawah. Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan vera dan Ferry. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut vera tetap mengaduh,
“Aduhh..” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya.
Tanpa disadari sebelumnya oleh Ferry. vera dengan ganasnya menggoyang-goyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Ferry kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kontol vera yang semakin menjepit seperti tang yang sedang menjepit paku agar paku itu putus. Beberapa menit kemudian Ferry memeluk badan vera dengan eratnya dan batang kontolnya berusaha ditekan ke atas membuat pantat vera terangkat. Semburan panaspun masuk ke bukit kontol vera yang kecil itu.
Mendapat semburan panas yang sangat kencang, vera mendesis kenikmatan sambil mengerang,
“Aduhh.. aduh.. Kak..” Selang beberapa menit Ferry diam sambil memeluk vera yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat.
Setelah badannya merasa sudah agak baik, Ferry membalikkan tubuh vera sehingga sekarang tubuh vera berada di bawah Ferry. Batang kontol Ferry masih menancap keras di lembah kontol vera meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki vera diangkat oleh Ferry dan disilangkan di pinggul. Ferry mengeluarkan batang kontolnya yang ada di dalam liang senggama vera.
Mendapat hal itu mata vera tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kontolnya ke dalam liang senggama vera, turun naik batang kontol Ferry di dalam liang perawan vera membuat vera beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kontol vera yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Ferry mengerang-erang sambil memeluk tubuh vera dan vera pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya. Ferry mendekap vera sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kontol Ferry dan vera pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya.
Kurang lebih 5 menit, Ferry memeluk vera tanpa adanya gerakan begitu juga vera hanya memeluk Ferry. Dirasakan oleh Ferry bahwa batang kontolnya mengecil di dalam liang kontol vera dan setelah merasa batang kontolnya betul-betul mengecil Ferry menjatuhkan tubuhnya di samping vera. Ferry mencium kening vera. vera membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Ferry bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki vera.
Mendengar itu Ferry hanya tersenyum karena memang selama ini Ferry mendambakan istri seperti vera ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan vera maka ia akan mendapatkan segalanya. Ferry mengucapkan selamat bobo kepada vera yang langsung tertidur kecapaian dan Ferry langsung keluar dari kamar vera setelah Ferry menggunakan pakaiannya kembali. Ferry masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya.
Tante Weny dibuat kaget karena Ferry langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya.
“Tante sudah pulang,” tanya Ferry. Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya.
Lalu Ferry membuka kulkas untuk mencari air putih.
“Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante Weny sambil tersenyum.
“Bagaimana sekarang Ferry burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, Ferry langsung kaget.
“Ah Tante, mau cari sangkar dimana,” jawab Ferry mengelak.
“Ferry kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama vera dan Tante.” Mendengar itu, Ferry langsung diam dan ia akan menikahi vera seperti yang dijanjikanya.
Mendengar hal itu Tante Weny tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Ferry sambil meraba batang kontol Ferry yang sudah tidak kuat untuk berdiri. Melihat batang kontol Ferry yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Weny tersenyum.
“Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa.. Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante Weny.
“Ahh nggak Tante, biasa saja kok.” Tante Weny meninggalkan Ferry, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya.
Akhirnya pernikahan vera dengan Ferry dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena vera masih di bawah umur. – Cersex Cerita Sex, Sex Hot, Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Ngentot Hot Terbaru 2016

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Mengulum Tongkat Kenikmatan
author