Cerita Sex: TANTE BETTY

No comment 1740 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Dalam kehidupanku banyak dihiasi oleh banyak perempuan, namun kali ini aku mendapatkan
sosok wanita yang beda dari yang selama ini pernah aku rasakan.

CERITA SEX

Wanita yang kali ini bisa
dibilang tante-tante karena umurnya yang sudah gak muda lagi sekitar 35 tahunan. Namun
dibalik umurnya yang sudah gak muda lagi tersimpan tubuh yang sangat aduhai sekali, gak
kalah dengan gadis remaja saat ini. Bodinya langsing, pantatnya besar, buah dadanya
lumayan besar dan wajahnya yang halus, menjadi sensasi Sex ku kali ini.
Sebut saja namnya tante Betty. Wanita 35 tahun yang bekerja sebagai staf disebuah kantor
provinsi. Karena kebiasaanku datang ke kantor itu untuk meminjam buku untuk tugasku aku
mengenal tante Betty. Sejak pertma aku melihatnya aku langsung terpana dengan kecantikan dan
kemolekan tubuh tante Betty ini. Hingga akhirnya aku bisa mengenalnya dan semakin hari
semakin dekat tantu Betty. Kita lebih akrab dan kadang jika tante Betty sedang istirahat
kantor, dia mengajakku untuk makan siang di resto belakang kantornya.

Aku yang sudah naksir dengannya pun tak menolak dengan ajakan tante Betty itu. Disela makan
siang tante Betty juga sempat memberitahukan kepadaku tentang anak perempuannya yang juga
sydah dewasa. Dan tante Betty juga melihatkan fotonya kepadaku, sungguh anaknya juga gak
kalah cantik dengan ibunya. Namun dari segi keseksian ibunya lebih seksi dari anaknya. Dan
aku sendiri merasakan hal yang berbeda karena aku lebih suka pada tante Betty ketimbang
anaknya yang masih muda, padahal umurku juga masih sangat muda. Waktu itu umurku baru 23
tahun.
Hingga akhirnya suatu sore saat aku sedang mau meminjam buku, aku dipanggil tante Betty.
“Kamu mala mini ada acra gak Dewo??” tanya tante Betty. “Eeemmm..gak ada sih tante, emang
kebapa tante?” jawabku. “Kamu mau gak temenin tante nonton konser” ajak tante Betty.
“boleh-boleh aja siih tante, Konser dimana tante” jawabku. “di café …..” tante Betty
menyebutkan sebuah nama café. “Oke deeeh tante” jawabku. “Tunggu sebentar ya, tante mau
ganti baju dulu” ucap tante Betty. “Iyha tante” jawabku singkat.
Tak berapa lama kutunggu, Ibu Betty sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi
blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda
dalam soal dugem.

“Ayo!” Ajaknya
Aku pun mengikutinya menuju Mobilnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut.
“Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam?” Tanyaku
“Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton
konser ? ” Usulnya
“Boleh juga!, dimana?”
“Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK!”
“Aku pun mengangguk mengiyakan nya”
Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun
mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial
maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Betty menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya
kehidupan rumah tangganya.
“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum
pernah berumah tangga.” kataku merespon nya
“Ini cuma sekedar curhat koq, Dewo!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya Dewo
Adi sudah menjalan kehidupan bersama” Jawab Ibu Betty diplomatis
“Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh
banget bedanya, paling cuma 13 tahun !” Tambahnya
“Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut”.

Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan
gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser
tampak Ibu Betty sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku,
sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan.
Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan
bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Betty terpeleset namun
untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya
kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Betty terdiam, memandangku,
mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya.

“Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang” Kataku
Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Betty seDewoit
pincang kaki nya. Tengah malam kurang seDewoit, kami sampai di rumah Ibu Betty, karena aku
sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan
keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun
duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah. Sambil terpincang-pincang, Ibu Betty
membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat
kejadian di tangga cafe tadi.
“Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja.” Kataku
“Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati sih, pegel banget nih!” Katanya
“Sini saya pijitin” kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya
sampai selutut

Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia
bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar
halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Betty
memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya.
“temani aku malam ini, Dewo!” Bisiknya lirih di telingaku
Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh
buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan
lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan
aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Tragedi Tasya Dengan Tukang Sapu

Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Betty menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan
kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka
baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk
dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Betty mendesah-desah,
sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut Dewoocoknya perlahan.
“Mbak.., aku buka ya, celananya!” Bisikku yang disambut dengan anggukannya
Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Betty mengangkang kan pahanya,
dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu,
gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas.

Ibu Betty memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku
sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai
basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan.
Dengan nafas terengah-engah Ibu Betty menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya.
Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu
beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan
kemaluanku seDewoit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang.
“Ayo dong, Dewo!, jangan buat aku semakin ……” bisiknya
“Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak!” Balasku berbisik
“Ayolah, Dewo!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..!”
“Akupun mengangguk”

Ibu Betty berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku
berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam
vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-
desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang
vaginanya.
Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi
kenikmatan ini sebelum Ibu Betty mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku
untuk mulai menyetubuhi nya.

Kudorong tubuh Ibu Betty ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan
pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Betty.
Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan
kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala
kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.
“hh..terus, Dewo!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch!” Desahnya
“Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh..” Desahku
“Ouuw…hh..,…lebih ce…aaahhhh!”
“Tenang aja, manisku…ohh.., enak Mbak!”
“Sss….sama…aku juga…ohh..ohh!”

Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku
terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Betty mendesah panjang sebelum pelukannya terasa
melemah.
“aku.., sam…,Dewo!, …Aaaaakkhhh !” Desahnya
Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasan-
remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum
ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat
kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Betty lebih erat lagi
“Ouuuhhh..ooouuuhh….!” Desahku tak lama kemudian
Aku bergulir di samping Ibu Betty mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan
ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat
diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas
Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Betty. Dia tersenyum
padaku.

“Makasih, Mbak! Enak sekali tadi” Kataku tersenyum
“Sama-sama,Dewo! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! ” jawabnya
Ibu Betty mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang
lalu di usapnya dengan selimut.
“Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak
khan nanti?” Tanyaku
“Enggak, santai saja, sayang!” Katanya manja sambil mencium pipiku
“Emm..,Mbak!” Tanyaku
“Apa sayang?” Jawabnya
“Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak?”
“Anytime, anywhere, honey!” Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku.
Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Betty
untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya,
bahkan masih berlangsung hingga saat ini.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Ngentot Menantu Perempuan

Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewek ku, ternyata malah mendapat layanan plus
yang memuaskan dari ibunya.

author