Cerita Sex: Selingkuh Sama Lisna

No comment 2597 views

Jagobokep.com Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa – Aku sedang menonton televisi di kamarku ketika Lisna keluar dari kamar mandi mengnikmatan baju tidur. Hm.. dia pasti habis cuci muka dan bersih-bersih sebelum tidur. Di kamar tidur Kita memang terdapat kamar mandi dan televisi, sehingga Aku menonton televisi sambil tiduran.

cwek mulus

Lisna berbaring di sampingku, dan memejamkan matanya. Lho? Dia langsung mau tidur nih! Padahal Aku sejak tadi menunggu dia. Lihat saja, si “Udin”sudah bangun menantikan jatahnya.
“Lisna! Koq langsung tidur sih?”
“Mm..?

Lisna membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Woow.. kemaluanku semakin mengeras. Lisna mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. Lisna mencium pipiku.

“Cupp..!”
“Tidur yang nyenyak yaa..” katanya perlahan.
Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial
benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.
“Lisna! Sheiill..!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya.
“Umm.. udah maleem.. Lisna ngantuk niih..”

Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal Aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si “Udin” masih tegang dan penasaran minta jatah. Begitulah Lisna. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya nikmat dilihat, sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat “hemat”. Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Lisna, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks. Tidak heran meskipun sudah lebih setahun Kita menikah, sampai saat ini Kita belum punya anak. Untuk
pelampiasan, Aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. Lisna bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja Lisna untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, Aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Lisna. Siapa tahu dalam mimpi, Lisna mau memuaskanku? Hehehe..
Esoknya saat jam istirahat kantor, Aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka, disana Aku bertemu dengan Sella, sahabatku dan Lisna semasa kuliah dahulu. Kulihat Sella bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Sella tidak punya adik. Ternyata setelah Kita
diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Sella. Fitri namanya. Heran juga Aku, koq saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya Kita makan satu meja.

Sambil makan, Kita mengobrol. Ternyata Fitri sama seperti Sella, tipe yang mudah akrab dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika Aku menanyakan tentang Ronald (sahabatku semasa kuliah), Sella bilang bahwa Ronald sedang pergi ke Surabaya sekitar dua
minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

“Paling juga disana dia main perempuan!” begitu komentar Sella. Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Ronald, dan bukan hal yang aneh kalau Ronald ada main dengan wanita lain disana. Saat Fitri permisi untuk ke toilet, Sella langsung bertanya padaku.
“Jack, loe ama Lisna gimana?”
“Baik. Kenapa?”
“Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main perempuan. Koq bisa ya Akur ama Lisna?”

Aku diam saja. Aku dan Lisna memang lumayan Akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti setiap hari Aku minta jatah dari Lisna. Tapi kalau Lisna dituruti, paling hebat sebulan di jatah empat atau lima kali. Itu juga harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan Aku
hanya dua kali dijatah Lisna. Jelas saja Aku selingkuh! Mana tahan?

“Koq diem, Jack?” pertanyaan Sella membuyarkan lamunanku.
“Nggak koq..”
“Loe lagi punya masalah ya?”
“Nggaak..”
“Jujur aja deh..” Sella mendesak.
Kulirik Sella. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Ronald. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.
“Cerita doong..!” Sella kembali mendesak.
“Mi.., loe mau pesta “assoy” lagi nggak?” Aku memulai. Sella kelihatan kaget.
“Eh? Loe jangan macem-macem ya Jack!” kecam Sella. Aduh.., kelihatannya dia marah.
“Sorry! Sorry! Gue nggak serius.. sorry yaa..” Aku sedikit panik. Tiba-tiba Sella tertawa kecil.
“Keliatannya loe emang punya masalah deh.. Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.”

Saat itu Fitri kembali dari toilet. Kita melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu Aku kembali ke kantor. Jam 5 sore Aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit Aku menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering. Dari Sella, menanyakan dimana Aku berada. Setelah bertemu, Sella langsung mengajakku naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan
disana. Di jalan Sella langsung menanyaiku tanpa basa-basi.

“Jack, loe lagi butuh seks ya?” Aku kaget juga ditanya seperti itu.
“Maksud loe?”
“Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Lisna kenapa?” Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.
“Mi.. Lisna itu susah banget.. dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja, gue selalu nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon. Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong! Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.”
Sella tertawa.

“Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?”
“Dia nggak marah koq. Lagi gue perkosanya nggak kasar.”
“Mana ada perkosa nggak kasar?” Sella tertawa lagi.
“Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.”
“Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu..”
“Jadi kalo sekali-sekali tega ya?”
“Yah.. namanya juga kepepet.. Udah deh.. nggak usah ngomongin Lisna lagi ya?”
“Oke.. kita juga hampir sampe nih..”
Aku heran. Ternyata Sella menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi Aku tidak menyadarinya.
“Mi, apartemen siapa nih?”
“Apartemennya Fitri. Pokoknya kita masuk dulu deh..”

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Omku Malang Oomku Sayang

Fitri menyambut Kita berdua. Setelah itu Aku menunggu di sebuah kursi, sementara Fitri dan Sella masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Sella memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan ketika Aku masuk, si “Udin” langsung terbangun, sebab kulihat Sella dan Fitri tidak memakai
pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip sedang bertelanjang
bulat di depanku. Mimpi apa Aku?

“Koq bengong Jack? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!” panggil Sella lembut. Aku menurut bagai dihipnotis. Fitri duduk bersimpuh di ranjang.
“Ayo berbaring disini, Mas Jacky.” Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fitri. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah buah dada Fitri yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Fitri langsung melucuti pakaian atasku, sementara Sella melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya Aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan
nafsuku yang bergolak.

“Gue pijat dulu yaa..” kata Sella. Kemudian Sella menjepit kemaluanku dengan kedua buah dadanya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Sella tersenyum kepadAku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua buah dada Sella yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.
“Nikmat kan, Jack?” Sella bertanya. Aku mengangguk. “Nikmat banget. Lembut..” Fitri meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam buah dadanya. Dia membungkuk, sehingga kedua buah dadanya menggantung bebas di depan wajahku.

“Jack, perah susu gue ya?” pintanya nakal. Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Fitri merintih-rintih.
“Ahh.. awww.. akh.. terus.. Jack.. ahh.. ahh..”
Buah dada Fitri terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Sella menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “Udin”.
“Dulu diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya?” kata Sella, dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “Udin” tepat di bagian bawah lubangnya.

Aku langsung merinding kenikmatan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “Udin” telah berada di dalam mulut Sella, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Sella juga sesekali mengemut telur kembarku
sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Sella benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Nikmatnya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat Ku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan air mani.

“Mi.. gue.. udah mau.. ke.. luar..” Sella semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan air mani berkali-kali ke dalam mulut Sella. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada buah dada Fitri pun akhirnya berhenti. Sella terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

“Aahh.. Sella.. udahan dulu dong..!”
“Koq cepet banget keluar?” ledeknya.
“Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus.” Aku membela diri.
“Oke deh, kita istirahat sebentar.”

Sella lalu menindih tubuhku. Buah dadanya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Fitri mengambil posisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Sella hingga akhirnya Aku menemukan daging
kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Sella mendesah perlahan. Kugunakan jari jempol dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengorek liang sanggamanya. Desahan Sella semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu
Fitri terus saja menjilati kemaluanku.

Tidak hanya itu, Fitri mengosok-gosok mulut dan leher si “Udin”, sehingga sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat. Kali ini Aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja Aku membalik posisi tubuhku, menindih Sella yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Sella mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Sella. Aku mulai mengocok maju mundur. Sella melingkarkan tangannya memeluk tubuhku.

Fitri yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati Kita berdua yang sedang bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Sella mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme. Kucabut batang kemaluanku dari kemaluan Sella, dan langsung kuraih tubuh Fitri. Untuk mengistirahatkan si “Udin”, Aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok kemaluan Fitri. Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Fitri mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur buah dadanya, kanan dan kiri. Fitri meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang Fitri, Aku bersedia untuk main course. Fitri nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy style.

Kemaluannya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak
sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya. dengan pelan tapi pasti. Fitri merintih-rintih keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang diberikan oleh jepitan kemaluan Fitri.
Hangat sekali, lebih hangat dari milik Sella. Setelah itu kumulai menyodok Fitri maju mundur.
Fitri memang berisik sekali! Saat Kita melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang. Tapi Aku suka juga mendengarnya. Kedua buah dadanya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan Kita. Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua daging kenyal tersebut dan langsung kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin kupercepat, membuat Fitri semakin keras mengeluarkan suara.

“Aaahh.. Aaahh.. Gue keluaar.. Aaah..” teriak Fitri dengan lantang. Fitri terkulai lemas, sementara Aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian Aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.
“Fit.. gue mau keluar nih..”
Fitri langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya Aku memuntahkan air maniqu di dalam mulut Fitri, yang ditelan oleh Fitri sampai habis. Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Sella berbaring di sisiku. Buah dadanya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Fitri masih membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: JalanJalan Nikmat

“Gimana Jack? Puas?” Sella bertanya.
“Puas banget deh.. Otak gue ringan banget rasanya.”
“Gue mandi dulu ya?” Fitri memotong pembicaraan Kita. Lalu ia menuju kamar mandi.
“Gue begini juga karena gue lagi pengen koq. Ronald udah dua minggu pergi. Nggak tau baliknya kapan.” Sella menjelaskan.
“Nggak masalah koq. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.”
“Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Ronald. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!” Aku diam saja. Sella bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
“Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Lisna bingung lho!”

Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kuknikmatan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pergi dengan Fitri, Sella mengantarku kembali ke Citraland. Disana Kita berpisah, dan Aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Lisna menanyakan darimana saja Aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja Aku habis makan malam bersama teman.
“Yaa.. padahal Lisna udah siapin makan malem.” Lisna kelihatan kecewa. Sebenarnya Aku belum makan malam,aku lapar.
“Ya udah, Jacky makan lagi aja deh.. tapi Jacky mau mandi dulu.” kataku sambil mencium dahinya.
Lisna kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

author