Cerita Sex: Perawan Tua Beringas

No comment 988 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Sebelum Lebaran kemarin, aku mengantarkan Budhe ku untuk menjalani operasi kecil di Rumah Sakit ‘K’ di kota ‘S’, setelah mendapatkan kamar rawat inap kelas 2 untuk pasien pegawai negeri, akhirnya aku menjalani hari-hari yg membosankan untuk dilewatkan seandainya saja aku tdk bertemu dgn seorang pasien jg yg berbeda kamar dgn yg kutempati, yg kupanggil dgn nama Mbak Rani.

cerita-sex-perawan-tua-beringas

Mbak rani ini usianya sdh 42 tahun, namun sampai saat ini dia belum menikah yg katanya donarenakan sesuatu dan lain hal yg aku tdk perlu tahu dan yg perlu dicatat, dia masih cantik walaupun agak sedonit montok menurutku. -cerita sex terbaru- Lambat laun kami menjadi semakin akrab dan diakhir perjumpaan kami, dia menghadiahkan sesuatu yg tdk terlupakan seumur hidupku.

Begini ceritanya :

Sore itu aku menemuinya setelah seharian mengurus surat-surat dan biaya perawatan Budhe ku selama di rumah sakit, untuk mengucapkan selamat tinggal karena esok pagi aku harus pulang ke kota asalku.

“Mbak, besok aku mau pulang kampung, jangan nangis ya! kalau aku tinggal nantinya !” Kataku setelah mengobrol lama tanpa topik yg jelas
“Lho, sdh selesai, tho!, trus mau pulang jam berapa besok?’ tanya nya dgn bahasa jawa yg medhok
“Mungkin sekitar jam 10 an, nunggu jemputan sih”

Akhirnya kami jd mengobrol panjang lebar tentang kebersamaan kami selama ini di rumah sakit ini, tanpa terasa waktu menjadi semakin petang.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Nikmatnya Dewi Temanku

“Aku mandi dulu ya, don! nanti malam kita lanjutkan lagi ngobrolnya, cari tempat yg sepi biar lebih ‘hangat’ ” Katanya sambil menggelung rambut panjang nya dan berlalu ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandi
“Sini, don!, disitu ada kamar kosong yg nggak dipakai” Kata Mbak rani sambil menarik ku ke sebuah kamar remang-remang yg ada di lantai tiga dari bangsal rumah sakit ini
“Heh, apa ngga dimarahi kalau kita kesitu, ntar di tangkep satpam lagi!” Kataku
“Ngga ada satpam yg kontrol kesini kalo malam-malam begini”
“Masa?” Kataku meragukan sambil melihat jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam
“Lagian Mbak khan pasien, koq malah keluyuran seperti ini, sih?” Kataku
“Mbak khan tinggal pemulihan pasca operasi, jd udah ngga begitu di khawatirkan lagi!, nah itu ada tikar, kita duduk di situ yuk!” Ajak nya

Dan kami pun duduk berdua di keremangan kamar kosong sambil melihat keseberang bangsal lain dan pemandangan taman yg ada di bawah bangsal kami.

“don,..aku,..sebenarnya mencintaimu!” Katanya setelah beberapa saat kami mengobrol

Aku kaget

“Tp, Mbak…” Sela ku
“jangan buat aku kecewa, don!, sdh lama aku memimpikan hal seperti ini, semuanya ada padamu dan akan kuserahkan semua milik ku buatmu”
“Tp, Mbak..”
“Sst…, sdh, jangan ngobrol lagi, besok kamu pulang khan?, kita nikmati malam terakhir kita sebaik-baiknya”

Mbak rani lalu beringsut memeluk diriku, kucium wangi rambut yg membangkitkan gairahku, kusambut pelukannya dan kami saling berciuman dgn ganasnya. Sementara asyik berciuman, kubelai rambut panjangnya yg menjadi kesukaanku, sementara jari-jemarinya menelusup masuk celanaku meraba-raba kemaluan ku yg membesar.

“Mbak, ngga salah nih kita begini” Kataku dgn nafas tersengal-sengal
“Biar,don! kuhadiahkan sesuatu yg berharga buatmu” Bisiknya mesra
“Apa itu, Mbak?”
“Keperawananku, don!, aku masih perawan sampai seumur ini”

Mbak rani semakin ganas mengulum bibirku, kubalas dgn meremas payudaranya yg besar, sementara dia semakin kencang meremas kemaluanku.

“Ahh..don!, aku sdh tdk tahan, kurasa sdh ‘basah’, kamu keluarkan punyamu ya!, nanti aku masukkan, nggak usah lepas baju” Katanya tersengal sengal

Akhirnya aku memelorotkan celanaku sebatas lutut dan Mbak rani Melepas celana dalamnya dan mengangkat dasternya.

Dibelainya kemaluanku yg besar dgn mata berbinar-binar, lalu dia tiduran telentang.

“Ayo, don!, kesinikan punyamu” Bisiknya sambil membimbing kemaluanku kebibir memeknya yg kecil berbulu lebat itu.

Kucolek sedonit, basah!!

“Ayo, dong!, dorong pelan, masuk kedalam! Mbak jamin enak !” Bisiknya lagi saat kemaluanku menempel di memeknya yg mulai terbuka sedonit.

Kutekan perlahan kemaluanku menembus memeknya, masuk sedonit-agak susah, masuk setengah mulai licin, masuk semua-mulai terasa kenikmatannya.

“Aaaahh…, ohh!” Desah Mbak rani lirih ketika kemaluanku menembus memeknya. Mbak rani menarikku kedalam pelukannya, melumat bibirku dan berbisik mesra.
“Ayo, don! yg pelan saja ya!, agak sakit tp enak” Katanya

Secara perlahan kugerakkan pantatku maju mundur menuruti insting yg ada dalam kepalaku. Mbak rani sendiri melingkarkan pahanya menjepit pantatku sambil berdesah dan mendesis perlahan di telingaku tanda dia sangat menikmati permainan ini.

“Ouuch…shh, pelan-pelan, don!” Desahnya di telingaku
“iiyyah..hhh, mbaakh..” Kataku menahan kenikmatan

Kupeluk lebih erat tubuh montoknya, sambil menciumi lehernya, sayang aku tdk bisa mempermainkan payudaranya karena masih mengenakan daster yg sekarang menjadi basah karena keringat akibat panas dari persetubuhan ini.

“Ahh…Ohhh…agak cepat sedonit,don!, Ooouuch..!” Desahnya lirih
“Sshh…mbak jg, doong,..hhh!” Kataku

Ditimpahi suara berkecepokan orang bersetubuh, kami saling merayu mesra dgn lirih.

Entah sdh berapa lama permainan ini berlangsung, yg jelas lelehan keringat dan cipratan ludah memenuhi wajah kami sementara Mbak rani sendiri rambut panjangnya sdh mulai awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Takluknya Cindy

Sampai suatu ketika, jepitan pahanya semakin keras dan aku merasa kemaluanku seakan-akan diremas-remas oleh tangan yg halus yg membuat seluruh tubuhku bergetar dan ujung kemaluanku menjadi gatal sekali yg akhirnya menyemprotkan air mani ku banyak sekali ke dalam liang memek Mbak rani yg sdh terkulai lemas duluan.

Lalu aku bergulir kelelahan disamping tubuh Mbak rani, sambil mengatur napas.

“terima kasih Mbak!” Kataku
“Sama-sama, don!” Jawabnya masih dgn mesra walaupun dgn napas naik turun.

Disekanya pangkal pahanya dgn saputangan putih yg doneluarkan dari sakunya, dan diberikannya padaku.

“Buat kenang-kenangan kita berdua, don!” katanya sambil menciumku.

Setelah berbenah sebentar, kami pun turun ke lantai 2 menuju kamar masing-masing. Setelah itu aku mandi dan ku ambil saputangan pemberian Mbak rani tersebut, kuperhatikan terdapat sedonit bekas air mani kering dan bercak-bercak darah merah yg jg sdh mengering, tanda memang Mbak rani benar-benar masih perawan ketika terjd persetubuhan tadi.

Akhirnya kejdan itu paling berkesan dalam hidupku. Ketika aku pulang Mbak rani memberikan alamat rumahnya di Rt 06/07, ka**S***n, Si*****i, K****l, Jateng. Dan sewaktu senggang, kusempatkan mengunjunginya dan mengulang permainan yg membuat ketagihan itu sampai saat ini, sebuah pengalaman dari seorang perawan tua yg masih cantik dan montok yg seharusnya aku memanggilnya dgn tante.

Bravo Mbak rani.

author