Cerita Sex : Orang Pertama

No comment 1739 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita –Saat aku masih kecil kelas 5 SD aku sudah ditinggal oleh kedua orang tuaku karena sebab kecelakaan dan saat itu pula aku hari hariku terasa sepi rasa takut yang berkepanjangan masuk dalam pikiranku, dan saudara dari ayah atau ibu juga tidak tau akan hal ini, aku belum kenal dengan saudara saudaranya, dulu kami bertiga sudah cukup bahagia.

Dan setelah kejadian itu aku ikut ke pantai asuhan tidak tau juga siapa yang mengirim aku kesini, yang aku kenal adalah Bunda Bertha beliaulah yang member arahan buatku, tak hanya aku saja rupanya yang nasibnya sama banyak sepantaranku yang tinggal disini, kami sering berkumpul dan bercerita untuk mengurangi beban pikiranku saat itu.

Disini aku menemukan rumah baruku, sudah 5 bulan aku disini setiap pagi kami dibangunkan oelh Bunda Bertha untuk mandi dan memakai pakaian yang rapi dan cantik karena ada salah satu tamu istimewa.

Dan aku pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”

“Mungkin ya..”, kata Bunda Bertha sambil tertawa kecil.

“Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini..”

Tak kusangka, pertemuanku dengan Nardi Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya.

Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.

“Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya.

“Tidak”, Nardi masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
“Sempurna” katanya dingin.

“Seperti boneka..”

Aku yakin sekali dia bergumam [“..boneka yang aku idam-idamkan”

Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.

Sehari setelah kunjungan itu, Nardi bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.

“Halo.. Lina” Nardi melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.

“Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Lina. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Nardi.”

Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”

Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.

Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Nardi tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Nardi dan Tomi yang sangat menarik.

Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Nardi sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku.

Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.

Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Nardi mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Nardi belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.

“Nardi sudah pulang!!”, pikirku senang.

Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Nardi aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Nardi bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna.

Nardi terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Nardi pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.

Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Nardi dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Nardi. Benar saja, aku melihat Nardi berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.

Dia pun membungkukkan tubuhnya.

“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”

Nardi pun menggendongku yang masih teberthak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.

“Aku..aku..sayang Nardi”

“Nardi adalah milikku..hanya milikku seorang”

Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Nardi telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Nardi mempersiapkannya secara spesial.

Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Nardi. Kata Nardi, aku sangat cantik dengan baju itu, “Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik.”

Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.

“Kamu cantik ya Lina? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Nardi..”

Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Nardi yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.

“Hey Lina, Nardi itu ganteng banget ya? Temennya juga..” ujar Sara sambil tertawa kecil.

Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.

Setelah pesta usai, Nardi mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Nardi sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih Nardi..aku sayang sekali sama Nardi..”

Nardi pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.

“..Nardi? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?”

Tanpa banyak bicara, Nardi menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Sang Perawan Aduhai

“Nardi!! Sakit!! Kenapa??!!”

Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,

“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!”

Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.

“Nardi marah..”, pikirku.

Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.
Tiba-tiba, Nardi menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.

“Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”

Nardi menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.

“Nardi!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.

Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Nardi melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang tnardiat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.

“Aku harus menjadi orang pertama yang..”

Nardi tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.

“Hmmphh..”

Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Nardi terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Nardi mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.

“Ahh..”

Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.

“Panas..badanku terasa panas..Nardi..” pikirku dalam hati.

Nardi melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.

“Ahh..!!” nafasku makin memburu.

Tiba-tiba Nardi berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.

“Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”

Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Nardi melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.

“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya.

Nardi tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Nardi kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.

“Hhh..!!”

“Tidak apa-apa..kalau Nardi..tidak apa-apa.” pikirku.

Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Nardi mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.
“Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.

Nardi mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.

“Aaahh..!!”

Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Nardi menahanku dengan kuat.

Nardi menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Nardi membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.

“Nardi..!! tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.

Tetapi Nardi tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Nardi menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Nardi melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan ‘liang’ku
menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.

“Ohh..Lina.

Aku merasakan tangan Nardi meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Nardi mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Nardi masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.

“Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya.

Aku memilih untuk diam. Nardi bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Nardi mengecup kepalaku sambil mengelusnya.

“Lina, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”

Nardi memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.

“Ya Nardi..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih teberthak.

“Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Lina..

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Meluangkan Waktu Buat ML

Pelukan Nardi semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Nardi.

“Terima kasih..Nardi.’

author