Cerita Sex : Nafsu Baby Sitter STW

No comment 3904 views

Jagobokep.comCersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa –Haiiii perkenankan aku untuk sedikit bercerita tentang pengalamanku. Aku memiliki seorang anak laki-laki yg telah berumur 5 tahun dan duduk di bangku TK-B. Aku dan istriku sama-sama bekerja, sehingga anakku biasanya kutitipkan di rumah kakak iparku disaat kami berdua pergi bekerja. Kebetulan rumah kakak iparku dan rumah kami bersebelahan, dan kakak iparku tdk bekerja, sehingga urusan menitipkan anak bukanlah suatu masalah, apalagi keponakanku (anak dari kakak iparku tersebut) ada yg berumur sebaya dengan anakku.

4

Namun, belum absolutist berselang, kakak iparku pindah ke Sumatra karena suaminya ditugaskan di kota Medan. Sejak itulah masalah anak muncul menjadi persoalan yg memusingkan, sementara itu tdk ada lagi sanak saudaraku ataupun sanak saudara istriku yg tinggal di Jakarta selain kakak iparku yg pindah ke Sumatra (kebanyakan keluarga kami tinggal di jogja dan beberapa di Solo).

Keadaan ini memaksa kami untuk membayar seorang babby babysitter untuk menjaga anak kami disaat kami berada di kantor.

Sebagaimana biasanya, mempekerjakan seorang babysitter adalah persoalan yg sangat menjengkelkan, bayangkan saja dalam dua bulan kami telah 5 kali mengganti babysitter dengan berbagai macam sebab yg aku rasa tdk perlu kupaparkan disini.

Namun akhirnya ada juga seorang babby babysitter yg dapat bertahan bekerja selama hampir 3 bulan, ini merupakan rekor pertama yg telah dicapai setelah sebelumnya tdk pernah ada babby babysitter yg bertahan lebih dari 3 minggu. Atas dasar alasan itu juga, aku menyarankan kepada istriku untuk menaikkan gajinya sebagai kompensasi atas kerja serta tanggung jawabnya. Babby babysitter yg satu ini memang agak berbeda dari semua babby sitter terdahulu.

Ke-5 babby babysitter sebelumnya yg sempat bekerja di tempat kami, rata-rata berusia dibawah 30 puluh tahun, bahkan ada yg baru berusia 19 tahun, namun babby babysitter yg terakhir ini adalah seorang janda berusia 48 tahun. Kami memanggilnya Bu Sri, bertubuh besar untuk ukuran seorang wanita (tingginya kurang lebih 165 cm), agak gemuk sebagaimana umumnya wanita paruh baya.

Pada awalnya kami agak ragu kalau Bu Sri ini akan sanggup merawat Dion putra kami, mengingat Bu Sri sudah berumur, sementara Dion sangat hiperaktif, sehingga merawat Dion akan lebih melelahkan dibandingkan merawat anak-anak lain pada umumnya. Ternyata perkiraan kami salah, dan cukup surprise, ternyata Bu Sri dapat merawat Dion dengan baik. Bahkan ada kejadian yg lebih mengejutkan lagi, dan ini yg ingin kuceritakan pada kesempatan ini. Kami memiliki acara rutin, yaitu berenang yg kami lakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu sore.

Aku dan istriku selalu mengajak Dion berenang di gelanggang renang Ancol, dan biasanya selalu ada dua atau tiga orang anak tetangga teman bermain Dion yg ikut berenang bersama kami. Babby babysitter selalu kami ajak ikut serta untuk membantu mengawasi anak-anak, meskipun tdk ikut berenang. Sebagaimana biasanya, pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang Ancol, namun kali ini istriku tdk dapat ikut.

Istriku pulang ke Yogyakarta yg rutin dilakukannya enam bulan sekali untuk menjenguk keluarga di sana, terutama orangtuanya (mertuaku), sehingga pada acara berenang kali ini, yg ikut hanya aku, Dion beserta lima orang temannya serta tdk ketinggalan Bu Sri. Karena istriku tdk ikut, sementara teman Dion yg ikut lebih banyak dari biasanya, yaitu sampai lima orang (biasanya batten banyak tiga orang), aku berfikir bahwa Bu Sri perlu ikut turun ke air untuk membantu mengawasi anak-anak.

Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga merupakan tanggung jawabku. Menurut keterangannya, Bu Sri dapat berenang, tetapi dia tdk memiliki pakaian renang. Bagiku, yg penting Bu Sri dapat berenang, karena soal pakaian renang adalah soal mudah, tinggal beli saja, beres. Sesampainya di kolam renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yg menjual perlengkapan renang untuk membelikan baju renang Bu Sri. Untungnya ada nomor yg pas untuknya, karena baju renang ukuran besar tdk begitu banyak.

Setelah itu seperti biasanya, aku selalu menyewa kamar bilas keluarga yg dapat disewa per tiga jam. Aku selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena kupikir lebih praktis. Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan tdk perlu terpisah seperti di kamar bilas umum yg dipisahkan antara kamar bilas untuk pria dan wanita.

Disamping itu, di kamar bilas keluarga semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan di kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tdk perlu repot- repot antri ke tempat penitipan pakaian yg melelahkan, ditambah resiko kehilangan barang-barang. Battery juga sudah tersedia di dalam kamar bilas, tdk perlu repot-repot keluar kamar, ada air panasnya lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi lebih mudah. Dion dan teman-temannya begitu antusias, di kamar bilas mereka mengganti pakaian dengan tergesa-gesa.

Dan setelah selesai, mereka semua langsung lari ke kolam tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua anak-anak keluar menuju kolam, aku segera melepas pakaianku. Setelah aku telanjang bulat, aku bergegas menuju shower, namun… astaga… aku baru sadar kalau ternyata ada Bu Sri di kamar bilas itu. Kulihat Bu Sri mesem-mesem (tersipu malu) sambil mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa, seolah-olah telanjang bulat di depan Bu Sri merupakan hal yg lumrah bagiku, padahal itu kulakukan untuk mengusir rasa malu. Dengan sok berlagak tenang, aku menyuruh Bu Sri untuk segera ganti pakaian.

“Ayo.. Bu Sri.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada yg ngejagain..” Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan untuk mengusir rasa malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu kulihat Bu Sri terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh pada diriku.

Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Sri, aku yakin kalau mesem-mesem- nya berkaitan erat dengan keadaanku yg sedang telanjang ini.

“Forget it..!” kupikir sambil tetap telanjang bulat, akhirnya aku langsung menuju battery untuk membasahi tubuhku, hal yg biasa kulakukan sebelum berenang.

Saat berada di bawah kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu Sri saat sedang menanggalkan seragam babby sitternya yg berwarna putih, dan masih saja sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir buat apa malu-malu telanjang dihadapan majikannya ini, toh majikannya saja tdk malu telanjang bulat dihadapannya, semua ini membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku.

Selanjutnya pemandangan di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Sri sambil terus mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya, jantungku berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait BH-nya, serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya. Belum pernah terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Sri dalam keadaan yg kulihat saat ini.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Sensasi Ngentot Di Pesawat

Selama ini gairahku sama sekali tdk pernah terusik oleh wanita paruh baya itu yg bertubuh besar dan agak gembrot, serta mengenakan pakaian seragam putih. Namun pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh berbeda. Payudara yg sungguh besar dan montok dengan puting payudara yg lebar berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu menggetarkan kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya, membuat rambut lebat di kedua pangkal pahanya yg montok begitu jelas terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir dengan derasnya.

Jantungku semakin berdetak tdk beraturan, dan tubuhku gemetar menahan gairah yg kali ini terusik oleh pemandangan yg sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tdk pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Disaat Bu Sri hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks aku langsung berkata kepadanya,

“Ayoh… Bu Sri.., mandi dulu… supaya nggak keram di kolam.” Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yg semata-mata hanya agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Sri lebih lama lagi.

Namun ternyata, `Pucuk dicinta ulam tiba’, Bu Sri batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas jok empuk berkulit plastik yg ada di kamar bilas itu. Lantas sambil terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Sri melangkah menuju shower.

Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di bawah shower untuk memberi tempat bagi Bu Sri. Tubuh telanjangnya yg begitu montok dan besar, bergidik kedinginan saat air yg memancar dari battery menerpa tubuhnya. Bu Sri mengusap-usap wajahnya yg terguyur air shower. Birahi yg sudah menguasai diriku membuatku nekat menjamah payudaranya yg sangat besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran, takut kalau-kalau Bu Sri menolak untuk disentuh.

Tetapi ternyata Bu Sri hanya diam saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini membuatku nekat untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku menyentuh kemaluannya yg berambut lebat itu, dalam waktu yg hampir bersamaan tangan Bu Sri juga menjamah batang kontolku yg tengah tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang kontolku. Kupandangi wajah Bu Sri, matanya menatap nakal dengan senyuman bandel di bibirnya.

Wanita paruh baya itu ternyata begitu menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Sri kemudian berjongkok di hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang kontolku sampai menimbulkan bunyi yg begitu khas. Keahliannya menyedot dan mengulum batang kontolku begitu luar biasa, membuatku tdk dapat menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri, lalu menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas itu. Kubimbing agar Bu Sri duduk di jok empuk itu, dan tanpa kuminta, Bu Sri pun langsung membengkangkan kedua kakinya, sehingga kemaluannya yg besar menantang di hadapanku.

Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yg menutupi memeknya, sehingga kudapati bibir-bibir memek yg tebal berwarna hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir memek yg mulai merekah itu yg merupakan pertanda birahi luar biasa yg telah menghinggapi dirinya.

Saat bibir-bibir memek itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar kacang tanah seperti menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat klitoris sebesar itu, juga bibir-bibir memek yg begitu tebal, mungkin karena badannya besar membuat klitoris-nya juga jadi besar sesuai dengan ukuran badannya yg juga besar dan gemuk. Kujilati klitoris itu dengan buas, membuat Bu Sri mendesah keras, tubuhnya menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan itu, pinggulnya terangkat menyambut jilatan lidahku pada memek dan klitoris-nya.

Memeknya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding memeknya yg merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan kesiapannya untuk menerima coblosan batang kontolku. Akhirnya,

“Bleesss..!” kubenamkan batang kontolku ke lubang memeknya. Terasa begitu sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Sri yg telah hampir 20 tahun menjanda, membuat otot-otot memeknya kembali menguat.

Tubuh kami berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling menekan, sementara batang kontolku keluar masuk lubang memeknya menggesek dan menggaruk dinding-dinding memek yg sudah begitu gatal selama ini. Kujejalkan kontolku lebih dalam lagi, Bu Sri pun menyambut dengan mendorong pinggulnya supaya kontolku masuk ke tempat yg batten dalam.

Sementara itu jempol serta telunjukku memilin- milin klitoris-nya, membuat Bu Sri mengalami kenikmatan yg sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara desahan dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme yg dirasakannya. Spermaku menyembur deras di dalam lubang memek Bu Sri dan membanjiri rahimnya. Tubuhku menggeletak lemas di atas tubuhnya dengan batang kontol yg masih terbenam di lubang memeknya untuk beberapa waktu.

Saat kucabut batang kontolku, Bu Sri kembali merenggut batang kontolku dan memerasnya dengan begitu bernafsu, sehingga sisa-sisa sperma yg telah bercampur lendir memeknya meleleh keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya. Setelah kejadian yg mengejutkan dan menegangkan itu, kami melanjutkan acara berenang, sementara hubunganku dengan Bu Sri berjalan seperti biasa. Bu Sri tetap bersikap sebagaimana aku adalah majikannya. Hanya disaat istriku meleng, kami pun langsung bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu dan tanpa basa- basi.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Genjot Terus Om

Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu wajar seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tdk di rumah, sikapnya tetap saja begitu wajar. Sama sekali tdk tercermin di wajahnya maupun di sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya bandel dan sering bergelut senggama dengan diriku. Wajah cheat penuh birahi, mata binal, senyum nakal dan kebuasannya hanya muncul saat berada di atas ranjang.

Setelah semuanya selesai, dan kenikmatan telah direguk, sikapnya kembali wajar seperti sediakala.

author