Cerita Sex: Malam Syahdu Villa Cinta

No comment 2905 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Pagi-pagi benar ponsel-ku sudah bunyi. Aqu sedikit kesal dan malas bangun dari tempat tidurku. Namun bunyinya itu ga kurang keras, aqu malah ga bisa tidur lagi. Akhirnya aqu paksakan juga berdiri dan melihat siapa yang menelponku pagi-pagi begini. Eh, ga tahunya temanku Sindy. Aqu sedikit ketus juga menjawabnya, namun langsung berubah waktu aqu tahu maksudnya. Si Sindy mengajakku ikut bareng lelakinya ke vila tidak terlalu jauh dari tempatku.Aqu sih setuju sekali dengan ajakan itu, terus aqu tanya, apa aqu boleh ajak lelakiku. Si Sindy malah tertawa, katanya ya jelas dong, memang harusnya begitu. Rencananya kita bakal pergi besok sore dan kumpul dulu di rumahku

cerita sex

Singkat cerita kita berempat sudah ngumpul di rumahku. Kita memang sudah saling kenal, bahkan cukup akrab. Satrio, lelakinya Sindy teman baik Hari lelakiku. Oh ya, aqu belum mengenalkan aqu sendiri ya, namaqu Cecilia, umurku sekarang 17 tahun, dengan-dengan Si Sindy, Hari lelakiku sekarang 19 tahun, setahun lebih tua dari Satrio lelakinya Sindy. Oke, lanjut ke cerita. Kita berempat langsung cabut ke villanya Sindy. Sekitar setengah jam kita baru sampai. Aqu dan Sindy langsung beres-beres, menyimpani barang-barang dan menyiapkan kamar. Hari dengan Si Satrio lagi main bola di halaman villa. Mereka memang pecandu bola, dan kayaknya ga bakalan hidup kalau sehari saja ga menendang bola.

Villa itu punya tiga kamar, namun yang satu dipakai untuk menyimpani barang-barang. Mulanya aqu atur biar aqu dengan Sindy sekamar, Hari dengan Satrio di kamar lain. Namun waktu aqu beres-beres, Sindy masuk dan ngomong kalau dia mau sekamar dengan Si Satrio. Aqu terkejut juga, nekad juga ini anak. Namun aqu pikir-pikir, kapan lagi aqu bisa tidur bareng Si Hari kalau ga di sini. Ya ga perlu sampai gitu-gituan sih, namun kan asik juga kalau bisa tidur bareng dia, mumpung jauh dari ayah dan Bunda-ku. Hehehe, mulai deh omes-ku keluar. Oke, akhirnya aqu setuju, satu kamar buat Satrio dan Sindy, satu kamar lagi buat Hari dengan aqu.

Sore-sore kita makan bareng, terus menjelang malam, kita bakar jagung di halaman. Asik juga malam-malam bakar jagung ditemani lelakiku lagi. Wah, benar-benar suasananya mendukung. Hehehe, aqu mulai mikir yang macam-macam, namun malu kan kalau ketahuan dengan Si Hari. Makanya aqu tetap diam pura-pura biasa saja. Namun Si Sindy kayaknya memperhatikan aqu, dan dia nyengir ke aqu, terus gilanya lagi, dia ngomong gini,
“Wah.. sepertinya suasana gini ga bakalan ada di Bandung. Ga enak kalau dilewatin gitu saja ya.” Aqu sudah melotot ke arah dia, namun dia malah nyengir-nyengir saja, malah dia tambahin lagi omongannya yang gila benar itu,
“Satrio, kayaknya di sini terlalu ramai, kita jalan-jalan yuk!” Aqu sudah ga tahu harus apa, eh Si Satrio juga dengannya, dia setuju dengan ajakan Si Sindy, dan sebelum pergi di ngomong dengan Hari,
“Nah, sekarang elu harus belajar bagaimana caranya nahan diri kalau elu cuma berdua dengan cewek cakep kayak Si Cecilia.” Aqu cuma diam, malu juga dong disepet-sepet kayak gitu.

Aqu lihati Si Satrio dengan Si Sindy, bukannya jalan-jalan malahan masuk ke villa. Aqu jadi ga tahu harus ngapain, aqu cuma diam, semoga saja Hari punya bahan omongan yang bisa diomongin. Eh, bukannya ngomong, dia malah diam juga, aqu jadi benar-benar bingung. Apa aqu harus tetap begini atau nyari-nyari bahan omongan. Akhirnya aqu ga tahan, baru saja aqu mau ngomong, eh.. Si Hari mulai buka mulut,
“Eh.. kamu ga dingin?” Duer.. Aqu terkejut benar, ga jadi deh aqu mau ngomong, sebenernya aqu memang mau ngomong kalau di sini itu dingin dan aqu mau ajak dia ke dalam. Namun ga jadi, aqu ga sadar malah aqu geleng-geleng kepala. Hari ngomong lagi,
“Kalau ga dingin, mau dong kamu temenin aqu di sini, lihat bulan dan bintang, dan.. bintang jatuh itu lihat..!” Hari tiba-tiba teriak sambil menunjuk ke langit. Aqukontan berdiri terkejut sekali, bukan dengan bintang jatuhnya, namun dengan teriakan Si Hari, aduh.. malu benar jadinya. Hari ikutan berdiri, dia rangkul aqu dari belakang,
“Sorry, aqu ga punya maksud ngagetin kamu. Cuma aqu seneng saja bisa lihat bintang jatuh bareng kamu.”Aqu cuma bisa diam, ga biasanya Hari segini warm-nya dengan aqu. Dia malah ga pernah peluk aqu seerat ini biasanya. Aqu tengok arlojiku, jam 11.00 malam. Kuajak Hari ke dalam, sudah malam sekali. Dia setuju sekali, begitu masuk ke villa kita disambut dengan bunyi pecah dari lantai atas. Kontan saja kita lari ke atas melihat ada apa di atas. Hari sampai duluan ke lantai atas, dan di nyengir, terus dia ajak aqu turun lagi, namun aqu masih penasaran, memang ada apa di atas. Waktu aqu mau ketuk pintu kamar Sindy, tiba-tiba ada teriakan lembut,
“Aw.. ah.. pelan-pelan donk!” Gila aqu terkejut setengah mati, namun tanganku sudahkeburu ngetuk pintu. Terus kedengaran bunyi gedubrak-gedubrak di dalam. Pintu dibuka sedikit, Satrio nongol sambil nyengir,
“Sorry, ngeganggu kalian ya? ga ada apa-apa kok kita cuma..”Aqu dorong pintunya sedikit, dan aqu lihat Si Sindy lagi sibuk nutupi tubuhnya pakai selimut. Dia nyengir, namun mukanya merah benar, malu kali ya. Aqu langsung nyengir,
“Ya sudah, lanjutin saja, kita ga keganggu kok.”Terus aqu ajak Hari ke bawah. Hari nyengir,
“Siapa coba yang ga bisa nahan diri, hehehe.”

Tiba-tiba ada sandal melayang ke arah Hari, namun dia langsung ngelak sambil nyengir, terus buru-buru lari ke bawah. Aqu ikut-ikutan lari sambil ketawa-ketiwi, dan kita berdua duduk di sofa sambil mendengarkan lagu di radio. Ga lama kedengaran lagi suara-suara dari atas.Aqu ga tahan dan langsung nunduk menahan ketawa. Gila, bisa-bisanya mereka berdua meneruskan juga olah raga malamnya, padahal sudah jelas-jelas kepergok dengan kita berdua. Eh, di luar dugaan aqu, Hari bediri dan mengajakku slow-dance, kebetulan lagu di radio itu lagu saat Hari ngajak aqu jadian. Aqu jadi ingat bagaimana deg-degannya waktu Hari ngomong, dan bagaimana aqu akhirnya menerima dia setelah tiga bulan dia terus nunggui aqu. Hari memang baik, dan dia benar-benar setia menungguiku. Selesai dance, Hari tanya lagi,
“Eh kalau mereka berdua ketiduran, aqu tidur dimana? memang tidur dengan barang-barang?” aqu malu sekali, bagaimana ngomongnya. Namun akhirnya aqubuka mulut,
“Kita.. kita tidur berdua.” Wah lega sekali waktu omongan itu sudah keluar. Namun aqu taqut juga, bagaimana ya reaksi Si Hari. Eh tahunya dia malah nyengir,
“Oke deh kalau kamu ga masalah. Sebenernya aqu juga sudah ngantuk sih, aqu tidur sekarang ya.”
Aqu jadi salah tingkah, Hari naik ke lantai atas dan ga sengaja aqu panggil dia, “Eh.. tunggu!” Hari berbalik, dia nyengir,
“Oke.. oke.. ayo naik, ga bagus anak cewek sendirian malam-malam gini.”
Aqu sedikit canggung juga sih, baru kali ini aqu tidur sekasur dengan lelaki, namun lama-lama hilang juga. Kita berdua ga ngapa-ngapain, cuma diam ga bisa tidur. Dari kamar sebelah masih kedengaran suara Sindy yang mendesah dan menjerit, dan sepertinya itu juga yang bikin Hari terangsang. Dia mulai berani remas-remas jariku. Aqu sih ga nolak, toh dia khan lelakiku. Namun aqu terkejut sekali, Hari duduk terus sebelum aqu tahu apa yang bakal dia laqukan, bibirku sudah dilumatnya. Aqu mau nolak, namun kayaknya tubuh malah kepingin. So, aqu biarkan dia cium aqu, terus aqu balas ciumannya yang semakin lama semakin buas.

Baru saja aqu mulai nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, aqu merasa ada yang meraba tubuhku, dipayudaral remasan halus di dadaqu. Aqu tahu itu Hari, aqu ga menolak. Aqu biarkan dia main-main sebentar di sana. Hari makin berani, dia angkat tubuhku dan diduduki di pinggir kasur. Dia cium aqu sekali lagi, terus dia mau buka pakaian tidurku. Aqu tahan tangannya, ada sedikit penolakan di kepalaqu, namun tubuhku kayaknya sudah kebelet ingin mencoba, kayak apa sih nge-sex itu. Akhirnya tanganku lemas, aqu biarkan Hari buka pakaianku, dia juga buka baju dan celananya sendiri. Dia cuma menyisakan celana dalam putihnya. Aqu lihat kemaluannya yang membayang di balik celana dalamnya, namun aqu malu melihati lama-lama, so aqu ganti lihat tubuhnya yang lumayan jadi. Mungkin karena olahraganya yang benar-benar rajin.

Aqu ga tahu apa aqu bisa tahan memuaskan Hari, soalnya aqu tahu sendiri bagaimana staminanya waktu dia main bola. 2×45 menit dia lari, dan dia selalu kuat sampai akhir. Aqu ga terbayang bagaimana aksinya di kasur, jangan-jangan aqu harus menerima kocokannya2x45 menit. Gila, kalau gitu sih aqu bisa pingsan.

Waktu aqu berhenti memikirkan stamina dia dan aqu, aqu baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya. Sekarang dadaqu telanjang bulat. Aqu malu setengah mati, mana Hari mulai meremas dadaqu lagi, yah pokoknya aqu ga tahu harus bagaimana, aqu cuma diam, merem siap menerima apa saja yang bakal dia laqukan. Tiba-tiba remasan itu berhenti, namun ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaqu, terus berhenti di putingku. Aqu melek sebentar, Hari asik menjilati putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Aqu makin malu, mana ini baru pertama kali aqu telanjang di depan lelaki, apalagi dia bukan adik atau kakakku. Wah benaran malu deh.

Lama-lama aqu mulai bisa menikmati bagaimana enaknya permainan lidah Hari di dadaqu, aqu mulai berani buka mata sambil melihat bagaimana Hari menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Namun tiba-tiba aqu diterkejutkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku. Tepat di bagian kemaluanqu. Aqu ga sadar mendesah panjang. Rupanya Hari sudah menelanjangiku bulat-bulat. Kali ini jarinya mengelus-elus kemaluanqu yang sudah basah sekali. Dia masih terus menjilati puting payudaraku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkanganku.

Aqu menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh kemaluanqu naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, aqu ga sadar mendesah lagi, dan tanganku ga sengaja menyenggol gelas di meja dekat kasurku. Lalu
“Prang..” gelas akhirnya pecah juga. Hari berhenti, kayaknya dia mau memberesi pecahan kacanya. Namun entah kenapa, mungkin karena aqu sudah larut dalam nafsu, aqu malah pegang tangannya terus aqu menggeleng,
“Barkan saja, nanti aqu beresin. Lanjutin.. please..”
Sesudah itu aqu lihat Hari nyengir, terus diciumnya bibirku dan dia melanjutkan permainannya di selangkanganku. Hari benar-benar jago mainkan lidahnya, benar-benar bikin aqu merem-melek keenakan. Terus di mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya. Aqu seperti kesetrum ga tahan, namun Hari malah terus-terusan melintir-melintiri “kacang”-ku itu. “Euh.. ah.. ah.. ach.. aw..” aqu sudah ga tahu bagaimana aqu waktu itu, yang jelas mataqu buram, semua serasa mutar-mutar. Tubuhku lemas dan nafasku seperti orang baru lari marathon. Aqu benar-benar pusing, terus aqu memejamkan mataqu, ada lonjakan-lonjakan nikmat di tubuhku mulai dari selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin tubuhku kejang-kejang tanpa bisa aqu kendalikan.

Aqu coba atur nafasku, dan waktu aqu mulai tenang, aqu buka mata, Hari sudah buka celana dalamnya, dan kemaluannya yang hampir maksimal langsung berdiri di depan mukaqu. Dia megangi batang kemaluannya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Aqu tahu dia mau di-”karoake”-in, ada rasa jijik juga sih, namun ga adil dong, dia sudah muasin aqu, masaaqu tolak keinginannya. So aqu buka mulutku, aqu jilat sedikit kepala kemaluannya. Hangat dan bikin aqu ketagihan. Aqu mulai berani menjilat lagi, terus dan terus. Hari duduk di kasur, kedua kakinya dibiarkan terlentang. Aqu duduk di kasur, terus aqu bungkuk sedikit, aqu pegang batang kemaluannya yang besarnya lumayan itu pakai tangan kiriku, tangan kananku menahan tubuhku biar ga jatuh dan mulutku mulai bekerja.

Mula-mula cuma menjilati, terus aqu mulai emut kepala kemaluannya, aqu hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku, ternyata ga masuk, kepala kemaluannya sudah menyodok ujung mulutku, namun masih ada sisa beberapa senti lagi. Aqu ga maksakan, aqu gerakkan naik-turun sambil aqu hisap dan sesekali aqu gosok batang kemaluannya pakai tangan kiriku. Hari sepertiya puas juga dengan permainanku, dia mrlihati bagaimana aqu meng-”karaoke”-in dia sambil sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah. Sekitar 5 menit akhirnya Hari ga tahan, dia berdiri dan mendorong tubuhku ke kasur sampai aqu terlentang, dibukanya pahaqu agak lebar dandijilatnya sekali lagi kemaluanqu yang sudah kebanjiran. Terus dipegangnya kemaluannya yang sudah sampai ke ukuran maksimal. Dia mengarahkan kemaluannya ke kemaluanqu, namun ga langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan kepala kemaluannya ke bibir kemaluanqu, baru beberapa detik kemudian dia dorong kemaluannya ke dalam. Seperti ada sesuatu yang maksa masuk ke dalam kemaluanqu, menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir.

Kemaluanqu sudah basah, tetap saja ga semua kemaluan Hari yang masuk. Dia ga memaksa, dia cuma mengocok-ngocok kemaluannya di situ-situ juga. Aqu mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana kemaluannya menggosok-gosok dinding kemaluanqu, benar-benar nikmat. Waktu aqu asik merem-melek, tiba-tiba kemaluan Hari maksa masuk terus melesak ke dalam kemaluanqu. “Aw.. ah..” kemaluanqu perih bukan main dan aqu teriak menahan sakit. Hari masih menghentak dua atau tiga kali lagi sebelum akhirnya seluruh kemaluannya masuk merobek selaput daraqu.
“Stt.. tahan sebentar ya, nanti juga sakitnya hilang.” Hari membelai rambutku. Di balik senyum nafsunya aqu tahu ada rasa iba juga, karena itu aqu bertekad menahan rasa sakit itu, aqu menggelengkan kepala,
“Ga apa-apa.. aqu ga apa-apa. Terusin saja.. ah..”

Hari mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Kemaluannya menggesek-gesek kemaluanqu, mula-mula lambat terus makin lama makin cepat. Rasa sakit dan perihnya kemudian hilang digantikan rasa nikmat luar biasa setiap kali Hari menusukkan kemaluannya dan menarik kemaluannya. Hari makin cepat dan makin keras mengocok kemaluanqu, aqu sendiri sudah merem-melek ga tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam kemaluanqu.
“Ga lama lagi.. ga bakalan lama lagi..” Hari ngomong di balik nafasnya yang sudah ga karuan sambil terus mengocok kemaluan aqu.
“Aqu juga.. ah.. oh.. sebentar lagi.. ah.. aw.. juga..” aqu ngomong ga jelas sekali, namun maksudnya aqu mau ngomong kalau aqu juga sudah hampir sampai klimaks. Tiba-tiba Hari mencabut kemaluannya dari kemaluanqu, dia tengkurapi aqu, aqu sendiri sudah lemas ga tahu Hari mau apa, namun secara naluri aqu angkat pantatku ke atas, aqu tahan pakai lututku dan kubuka pahaqu sedikit. Tanganku menahan tubuhku biar ga ambruk dan aqu siap-siap ditusukdari belakang.

Beneran saja Hari memasukkan kemaluannya ke kemaluanqu dari belakang, terus dia kocok lagi kemaluanqu. Dari belakang kocokan Hari ga terlalu keras, namun makin cepat. Aqu sudah sekuat tenaga menahan tubuhku biar ga ambruk, dan aqu rasakan tangan Hari meremas-remas dadaqu dari belakang, terus jarinya menggosok-gosok puting payudaraku, bikin aqu seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang. Hari kembali mengeluarkan kemaluannya dari kemaluanqu, kali ini dimasukkannya ke anusku. Dia benar-benar memaksakan kemaluannya masuk, namun ga semuanya bisa masuk. Hari sepertinya ga peduli, dia mengocok anusku seperti mengocok kemaluanqu, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas dadaqu, tangan kanannya sibuk main-main di selangkanganku, dia masukkan jari tengahnya ke kemaluanqu dan jempolnya menggosoki klitorisku.

Aqu makin merem-melek, anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadaqu diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir, terus kemaluanqu dikocok-kocok juga pakai jari tengahnya. Aqu benar-benar ga kuat lagi, akhirnya aqu klimaks, dan aqu merasakan Hari juga sampai klimaks, dari anusku kerasa ada cairan panas muncrat dari kemaluan Hari. Akhirnya aqu ambruk juga, tubuhku lemas semua. Aqu lihat Hari juga ambruk, dia terlentang di sebelahku.

Tubuhnya basah karena keringat terus, kupegang tubuhku, ternyata aqu juga basah keringatan. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.Ga tahu berapa lama aqu ketiduran, waktu akhirnya aqu bangun. Aqu lihat arloji, sudah jam 2 subuh. Leherku kering, namun waktu aqu mau minum, aqu ingat gelas di kamarku sudah pecah gara-gara kesenggol. Aqu lihat ke lantai, banyak pecahan kaca, terus aqu ambil sapu, aqu sapu dulu ke pinggir tembok. Aqu turun ke bawah, maksudnya sih mau ambil minum di bawah, aqu masih telanjang sih, namun aqu cuek saja. Aqu pikir si Satrio pasti masih tidur soalnya dia pasti capai juga olah raga malam bareng Si Sindy.

Aqu turun dan mengambil air dingin di kulkas. Kebetulan villanya Sindy lumayan mewah, ada kulkas dan TV. Aqu ambil sebotol Aqua, terus sambil jalan aqu minum. Aqu duduk di sofa, rencananya sih aqu cuma mau duduk-duduk sebentar soalnya di kamar panas sekali. Ga tahu kenapa, namun aqu akhirnya ketiduran dan waktu aqu bangun aqu terkejut setengah mati. Aqu lihatSi Satrio dengan santainya turun dari tangga langsung menuju kulkas, kayaknya mau minum juga.

Aqu bingung harus menutupi tubuhku pakai apa, namun aqu telat Si Satrio sudah membalik duluan dan dia melongo melihat aqu telanjang di depannya. Dia masih melihatiku waktu aqu menutupi selangkanganku pakai tangan, namun aqu sadar sekarang dadaqu kelihatan, makanya tanganku pindah lagi ke dada, terus pindah lagi ke bawah, aqu benar-benar bingung harus bagaimana, aqu malu setengah mati.

Satrio akhirnya berbalik,
“Sorry, aqu pikir kamu masih tidur di kamar. Jadi.. jadi..”
“Ga apa-apa, ini salahku.”
Aqu masih mencari-cari sesuatu untuk menutupi tubuhku yang telanjang polos, waktu akhirnya aqu juga sadar kalau Satrio juga telanjang. Sepertinya dia pikir aqu masih di kamar dengan Si Hari, makanya dia cuek saja turun ke bawah. Aqu pikir sudah terlambat untuk malu, toh Satrio sudah melihatku dari atas sampai ke bawah polos tanpa sehelai benangpun, apalagi aqu sudah ga perawan lagi, so malu apa. Cuek saja lah.

“Kamu sudah boleh balik, aqu ga apa-apa.” Aqu mengambil remot TV terus menyalakan TV. Aqu setel VCD, aqu pikir bagus juga aqu rileks sebentar sambil nonton TV. Satrio juga sepertinya sudah cuek, dia berbalik namun ga lagi melongo melihatiku telanjang, dia duduk sambil ikut nonton TV.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: My Step Sister Sunkyu

Gilanya yang aqu setel malah VCD BF. Namun sudah tanggung, aqu tonton saja, peduli amat apa kata Si Satrio, yang penting aqu bisa istirahat sambil nonton TV.
“Bagaimana semalem?” aqu buka percakapan dengan Satrio.
Dia berbalik, “Hebat, Sindy benar-benar hebat.”
Satrio sudah bisa nyengir seperti biasanya.
Aqu mengangguk, “Hari juga hebat, aqu hampir pingsan dibikinnya.”
Satrio nyengir lagi, lalu kita ngobrol sambil sesekali menengok TV. Kayaknya ga mungkin ada lelaki yang tahan ngobrol tanpa mikirin apa-apa dengan cewek yang lagi telanjang, apalagi sambil nonton film BF. Tiap kali ngomong aqu tahu mata Satrio selalu nyasar ke bawah, ka dadaqu yang memang lumayan menggoda. Aqu ga memuji sendiri, namun memang dadaqu cukup oke, ranum menggoda, bahkan lebih seksi dari kepunyaan Sindy, itu sebabnya Satrio ga berhenti-berhenti melihati dadaqu kalau ada kesempatan. Ada sedikit rasa bangga juga dibalik rasa maluku, dan sekilas kulihat kemaluan Satrio yang mulai tegang. Aqu nyengir dan sepertinya Satrio tahu apa yang aqu pikirkan.

Dia pegang tanganku,
“Boleh aqu pegang, itu juga kalau kamu ga keberatan.” Wah berani juga dia, aqu jadi sedikit tersanjung, terus aqu mengangguk. Satrio pindah ke sebelahku, dia peluk aqu dan tangannya mulai remas-remas dadaqu. Mula-mula dia sedikit ragu-ragu, namun begitu tahu kalau aqu ga nolak dia mulai berani dan makin lama makin berani, dan jarinya mulai nakal memelintir puting payudaraku. Aqu mulai merem-melek sambil memutar tubuhku. Sekarang aqu duduk di paha Satrio berhadap-hadapan. Satrio langsung menyambar putingku dan lidahnya langsung beraksi. Aqu sendiri sudah kebawa nafsu, aqu mulai mengocok kemaluannya pakai tanganku dan sepertinya Satrio juga puas dengan permainanku. Aqu mulai terbawa nafsu, dan aqu sudah ga peduli apa yang dia laqukan, yang jelas enak buatku.

Satrio menggendongku, kupikir mau dibawa ke kamar mandi, soalnya kamar di atas ada Sindy dengan Hari, namun tebakanku keliru. Dia malah menggendongku ke luar, ke halaman villa. Aqu terkejut juga, bagaimana kalau ada yang lihat kita telanjang di luar. Namun begitu Satrio buka pintu luar, aqu melihat di seberang villa, sepasang lelaki-cewek lagi sibuk nge-sex. Cewek itu mendesah-desah sambil sesekali berteriak. Aqu lihat lagi ke sekitarnya, ternyata banyak juga yang nge-sex di sana. Rupanya villa-villa di sekitar sini memang tempatnya orang-orang nge-sex.
“Bagaimana? kita kalahkan mereka?” Satrio nyengir sambil menggendongku. Aqu ikutan nyengir,
“Siapa taqut?” terus Satrio meniduriku di rumput. Dingin juga sisa air hujan yang masih membasahi rumput, punggungku dingin dan basah namun dadaqu lebih basah lagi dengan liurnya Si Satrio. Udara di luar itu benar-benar dingin, sudah di pegunungan, subuh-subuh lagi. Wah ga terbayang bagaimana dinginnya deh. Namun lama-lama rasa dingin itu hilang, aqu malah makin panas dan nafsu, apalagi Satrio jago benar mainkan lidahnya. Sayup-sayup aqu mendengarkan suara cewek dari villa seberang yang sudah ga karuan dan ga ada iramanya. Aqu makin nafsu lagi mendengarnya, namun Satrio sepertinya lebih nafsu lagi, dia itu seperti orang kelaparan yang seolah bakal nelan dua gunung kembarku bulat-bulat.

Lama juga Satrio main-main dengan dadaqu, dan akhirnya dia pegang kemaluannya minta aqu meng-”karaokei”-in itu kemaluan yang besarnya lumayan juga. Gara-gara tadi malam aqu sudah mencoba meng-”karaokei”-in kemaluan Hari, sekarang aqu jadi kecanduan, aqu jadi senang juga meng-”karaoke”-in kemaluan, apalagi kalau besarnya lumayan seperti punya Si Satrio. Makanya ga usah disuruh dua kali, langsung saja aqu caplok itu kemaluan. Aqu ga mau kalah dengan permainan dia di dadaqu, aqu hisap itu kemaluan kuat-kuat sampai kepalanya jadi ungu sekali. Terus kujilati mulai dari kepalanya sampai batang dan pelirnya juga ga ketinggalan.

Kulihat Satrio melihati bagaimana aqu main di bawah sana. Sesekali dia buka mulut sambil berdesah menahan nikmat. Aqu belum puas juga, kukocok batang kemaluannya pakai tanganku dan kuhisap-hisap kepalanya sambil kujilati pelan-pelan. Satrio merem-melek juga dan ga lama dia sudah ga tahan lagi, sepertinya sih mau keluar, makanya dia cepat-cepat melepaskan kemaluannya dari mulutku. Aqu tahu dia ga mau selesai cepat-cepat, makanya aqu ga ngotot meng-”karaoke”-in kemaluannya lagi.

Satrio sengaja membiarkan kemaluannya istirahat sebentar, dia suruh aqu terlentang sambil mengangkang. Aqu menurut saja, aqu tahu Satrio jago mainkan lidahnya, makanya aqu senang sekali waktu dia mulai jilati bibir kemaluanqu yang sudah basah sekali. Benar saja, baru sebentaraqu sudah dibikin merem-melek gara-gara lidahnya yang jago sekali itu. Sepertinya habis semua bagian kemaluanqu disapu lidahnya, mulai dari bibirnya, klitorisku, sedikit ke dalam ke daerah dinding dalam, sampai anusku juga ga ketinggalan dia jilati.

Aqu dengarkan, sepertinya pasangan di seberang sudah selesai main, soalnya sudah ga kedengaran lagi suaranya, namun waktu aqu lihat ke sana, aqu terkejut. Cewek itu lagi meng-”karaoke”-in lelaki, namun bukan lelaki yang tadi. Lelaki yang tadi nge-sex dengan dia lagimembersihkan kemaluannya, mungkin dia sudah puas. Sekarang cewek itu lagi meng-”karaoke”-in lelaki lain, lebih tinggi dari lelaki yang tadi. Gila juga itu cewek nge-sex dengan dua lelaki sekaligus. Namun aqu tarik lagi omonganku, soalnya aqu ingat-ingat, aqu juga dengan saja dengan dia. Baru selesai dengan Hari, sekarang dengan Satrio. Wah ternyata aqu juga dengan gilanya. Aqu nyengir sebentar, namun terus merem-melek lagi waktu Satrio mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya.

cerita sex

Satrio benar-benar ahli, ga lama aqu sudah mulai pusing, aqu lihat bintang di langit jadi tambah banyak dan kayaknya mutar-mutar di kepalaqu. Aqu benar-benar ga bisa ngontrol tubuhku. Ada semacam setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin aqu gila. “Ah.. ah.. Satrio.. Ah.. berhenti dulu Satrio.. Ah.. Ah.. Shh..” aqu ga tahan dengan puncak nafsuku sendiri. Namun Satrio malah terus-terusan melintir-melintir klitorisku. Aqu benar-benar ga tahan lagi, aqu kejang-kejang seperti orang ayan, namun sudahnya benar-benar enak sekali, beberapa menit lewat, semua tubuhku masih lemas, namun aqu tahu ini belum selesai.

Sekarang bagianku bikin Satrio merem-melek, makanya aqu paksakan duduk dan mulai menungging di depan Satrio. Satrio sendiri sepertinya memang sudah ga tahan ingin mengeluarkan maninya, dia ga menunggu lama lagi, langsung dia tusukkan itu kemaluan ke kemaluanqu. Ada sedikit rasa sakit namun ga sesakit pertama kemaluanqu dimasukkan kemaluan Hari. Satrio ga menunggu lama lagi, dia langsung mengocok kemaluanqu dan tangannya ga diam, langsung disambarnya dadaqu yang makin ranum karena aqu menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putingnya. Aqu ga tahan digituin, apalagi tubuhku masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan waktu Satrio menyodokkan kemaluannya saja sudah ga kuat. Aqu ambruk ke tanah, namun Satrio masih terus mengocokku, dari belakang.

“Ah.. euh.. ah.. aw..” aqu cuma bisa mendesah setiap kali Satrio menyodokkan kemaluannya ke kemaluanqu. Aqu coba mengangkat tubuhku namun aqu ga kuat, akhirnya aqu menyerah, aqu biarkan tubuhku ambruk seperti gitu. Satrio memutarkan tubuhku, terus disodoknya lagi kemaluanqu dari depan. Aqu sudah ga bisa ngapa-ngapain, setiap kali Satrio menyodokkan kemaluannya selain dinding kemaluanqu yang tergesek, klitorisku juga tergesek-gesek, makanya aqu makin lemas dan merem-melek keenakan.

Satrio memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu kanannya, terus dia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Aqu diam saja, ga bisa menolak, posisi apa yang dia ingin terserah, pokoknya aqu ingin cepat-cepat disodok lagi. Aqu ga tahan ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku terkabul, Satrio menyodokku lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang lagi, makanya kemaluanqu terbuka lebih lebar dan Satrio makin leluasa mengocok-ngocokkan kemaluannya. Kemaluanqu diaduk-aduk dan aqu bahkan sudah ga bisa lagi berdesah, aqu cuma bisa buka mulut namun ga ada suara yang keluar.

“Aqu mau keluar, aqu mau keluar..” Satrio membisikkan sambil ngos-ngosan dan masih terus mengocokku.
“Jangan di.. jangan di dalam. Ah.. ah.. oh.. aqu.. aqu ga mau.. hamil.”
Aqu cuma bisa ngomong gitu, seenggannya maksud aqu ngomong gitu, aqu ga tahu apa suaraqu keluar atau ga, pokoknya aqu sudah usaha, itu juga sudah aqu paksa-paksakan. Aqu gatahu apa Satrio ngerti apa yang aqu omongin, namun yang jelas dia masih terus mengocokku.

Baru beberapa detik lewat, dia mencabut kemaluannya, kakiku langsung ambruk ke tanah. Satrio mengangkang di perutku, dan dia selipkan kemaluannya ke sela-sela dadaqu yang sudah montok sekali soalnya aqu sudah dipuncak nafsu. Kujepit kemaluannya pakai dadaqu, dan Satrio mengocok-ngocok seolah masih di dalam kemaluanqu. Ga lama maninya muncrat ke muka dan sisanya di dadaqu. Aqu sendiri klimaks lagi, kulepaskan tanganku dari dadaqu, maninya mengalir ke leherku, dan mani yang di pipiku mengalir ke mulutku. Aqu bahkan ga bisa menutup mulutku, aqu terlalu lemas. Aqu biarkan saja maninya masuk dan aqu telan saja sekalian.

Belum habis lemasku, Satrio sudah menempelkan kemaluannya ke bibirku. Aqu memaksakan menjilati kemaluannya sampai bersih terus aqu telan sisa maninya. Satrio menggendongku ke dalam, terus dia membaringkanku di sofa. Aqu lemas sekali makanya aqu ga ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas baru jam 8.00 aqu baru bangun. Begitu aqu buka mata, aqu sadar aqu masih telanjang. Aqu memaksakan duduk, dan aqu terkejut kenapa aqu ada di kamar Sindy. Terus yang bikin aqu lebih terkejut lagi, aqu lihat sebelah kiriku Satrio masih tidur sedangkan di kananku Hari juga masih tidur. Mereka berdua juga masih telanjang seperti aqu.

Belum habis terkejutku, Sindy keluar dari kamar mandi di kamarku, dia lagi mengeringkan rambutnya dan dengan-dengan masih telanjang. Baru akhirnya aqu tahu kalau semalam Sindy bangun dan melihat aqu lagi nge-sex dengan Satrio. dia sih ga marah, soalnya yang penting buat dia Satrio cinta dengan dia, soal Satrio memuaskan nafsu dengan siapa, ga masalah buat dia. Ternyata Sindy melihat dari jendela bagaimana aqu dengan Satrio nge-sex dan Hari yang juga bangun subuh-subuh terkejut melihat aqu lagi nge-sex dengan Satrio. Dia keluar kamar, sepertinya mau melihat apa benar aqu lagi nge-sex dengan Satrio, namun dia sempat menengok ke kamar sebelah dan melihat Sindy yang lagi nonton aqu dengan Satrio nge-sex dari jendela. Hari langsung dapat ide, so dia masuk ke dalam dan mengajak Sindy nge-sex juga. Singkat cerita mereka akhirnya nge-sex juga di kamar. Dan waktu aqu dengan Satrio selesai, Satrio menggendongku ke atas dan melihat Hari dengan Sindy baru saja selesai nge-sex. Makanya kita berempat akhirnya tidur bareng di kamarnya telanjang bulat.

Hehehe, ga masalah, kita berempat malah makin dekat. Nanti malam juga kita bakalan nge-sexlagi berempat, ga masalah buat aqu Hari atau Satrio yang jadi pasanganku, yang penting aqu puas. Ga masalah siapa yang muasin aqu.

Seperti rencana kita semula, malam itu juga kita nge-sex berempat bareng-bareng. Asik juga sekali-kali nge-sex bareng seperti gitu. Hari masih tetap oke walaupun dia sudah ngocok Sindy duluan. Aqu masih kewalahan menghadapi kemaluannya yang memang gila itu. Satrio juga ga kalah, biarkan dia masih ngos-ngosan waktu selesai ngocok aqu, dia langsung sambar Sindy yang juga baru selesai dengan Hari. Terus kita nge-sex lagi sampai akhirnya dengan-dengan puas. Aqu puas sekali, soalnya baru kali ini aqu dipuasi dua lelaki sekaligus tanpa jeda. Baru saja selesai satu, yang satunya sudah menyodok-nyodok kemaluannya ke kemaluanqu. Pokoknya benar-benar puas sekali deh aqu.

Masuk ke cerita, malam ini kita rencana ga akan nge-sex lagi, soalnya sudah capai sekali dua hari gituan melulu. Makanya Hari dengan Satrio langsung menghilang begitu matahari mulai teduh. Mereka sih pasti main bola lagi, ga bakalan jauh dari itu. Sindy menghabiskan waktunya di villa, kayaknya dia capai sekali, hampir seharian dia di kamar. Aqu jadi bosan sendirian, makanya aqu putuskan aqu mau jalan-jalan. Kebetulan di dekat situ ada air terjun kecil. Aqurencana mau menghabiskan hari ini berendam di sana, biar tubuhku segar lagi dan siap tempur lagi. Aqu ga langsung ke air terjun, aqu jalan-jalan dulu mengelilingi kompleks villa itu. Besar juga, dan villanya keren-keren. Ada yang mirip kastil segala. Sepanjang jalan aqu ketemu lumayan banyak orang, rata-rata sih orang-orang yang memang lagi menghabiskan waktu di villa sekitar sini. Hampir semua orang yang ketemu melihati aqu. Dari mulai lelaki keren yang adadi halaman villanya, om-om genit yang sibuk menggodai cewek yang lewat sampai tukang kebun di villa juga melihati aqu. Aqu sih cuma nyengir saja membalas mata-mata kekasur mereka.

Ga aneh sih kalau mereka melihatiku, masalahnya aqu memang pakai baju pas-pasan, atasanku kaos putih punyanya Si Sindy yang kesempitan soalnya kamarku dikunci dan kuncinya terbawa Hari. Aqu malas mencari dia, makanya aqu pakai saja kaos Si Sindy yang ada di meja setrika. Itu juga aqu ga pakai bra, soalnya bra Sindy itu sempit sekali di aqu. memang sih dadaqu jadi kelihatan nonjol sekali dan putingnya kelihatan dari balik kaos sempit itu, namun aqu cuek saja, siapa yang malu, ini kan kawasan villa buat nge-sex, jadi suka-suka aqu dong.

Oh ya aqu jadi lupa, bawahan aqu lebih gila lagi. Aqu ga tega membangunkan Sindy cuma untuk minjam celana atau rok, kebenaran saja ada Samping Bali pengasih Hari bulan lalu, ya aqu pakai saja. Aqu ikat di kananku, namun tiap kali aqu melangkah, paha kananku jadi terbuka, ya cuek saja lah. Apa salahnya sih memarkan apa yang bagus yang aqu punya, benar ga?

Singkat cerita, aqu sampai ke air terjun kecil itu. Aqu jalan-jalan mencari tempat yang enak buat berendam. Kaosku mulai basah dan dadaqu makin jelas kelihatan, apalagi Samping yang aqu pakai, sudah basah benar-benar kena cipratan air terjun. Enak juga sih segar, namun lama-lama makin susah jalannya, soalnya Samping aqu jadi sering keinjak. Aqu jadi ingin cepat-cepat berendam, soalnya segar sekali airnya, dan waktu aqu menemui tempat yang enak, aqu siap-siap berendam, aqu lepas sandalku. Namun waktu aqu mau melepas Samping-ku tiba-tiba ada tangan yang memegang bahuku, aqu berbalik ternyata seorang lelaki menodongi pisau lipat ke leherku. Aqu terkejut camput taqut, namun secara naluri aqu diam saja, salah-salah leherku nanti digoroknya.

“Mau.. mau apa lo ke gue?” aqu tanya ke orang yang lagi nodong pisau ke aqu. Aqu ga berani lihat mukanya, soalnya aqu taqut sekali. Ternyata lelaki itu ga sendiri, seorang temannyamuncul dari balik batu, rupanya mereka memang sudah ngincar aqu dari tadi. Temannya itu langsung buka baju dan celana jeans-nya. Aqu tebak kalau mereka mau memperkosa aqu. Ternyata tebakanku benar, orang yang menodongi pisau bicara, “Sekarang lo buka semua baju lo, cepet sebelum kesabaran gue habis!” Aqu jadi ingat bagaimana korban-korban perkosaan yang aqulihat di TV, aqu jadi ngeri. Jangan-jangan begitu mereka selesai perkosa aqu, aqu dibunuh. Makanya aqu beranikan diri ngomong kalau aqu ga keberatan muasin mereka asal mereka ga bunuh aqu.

“Oke.. oke, aqu buka baju. Kalem saja, aqu ga masalah muasin elu berdua, namun ga usah pakai nodong segala dong.” Aqu berusaha ngomong, padahal aqu lagi taqut setengah mati. Orang yang nodongin pisau malah membentak aqu, “Goblok, mana ada cewek mau diperkosa, elu jangan macem-macem ya!” Aqu makin taqut, namun otakku langsung bekerja, “Santai dong, emangnya gue berani pakai baju ginian kalau gue ga siap diperkosa orang? Lagian apa gue bisa lari pakai samping kayak ginian?” Kedua orang itu melihati aqu, terus akhirnya pisau itu dilipat lagi. Aqu lega setengah mati, namun ini belum selesai, aqu masih harus puasin mereka dulu.

Aqu mulai buka Samping-ku, “Maunya bagaimana, berdua sekaligus atau satu-satu?” Orang yang tadi nodongin pisau melihat ke orang yang satunya, “Eloe dulu deh. Gue lagi ga begitu mood.” Temannya mengangguk-angguk dan langsung mencaplok bibirku. Aqu lihat-lihat, ganteng juga nih orang. Aqu balas ciumannya, dia sepertinya mulai lebih halus, pelan-pelan dia remas dadaqu dan tahu-tahu aqu sudah ditiduri di atas batu yang lumayan besar. Dia ga langsung main sodok, dia lebih senang main-main dengan dadaqu, makanya aqu jadi lebih rileks, so aqu bisa menikmati permainannya.

“Ah.. yeah.. ah.. siapa.. siapa nama loe?” aqu tanya dibalik desahan-desahanku menahan nikmat. Dia nyengir, mirip sekali Si Satrio, dia terus membuka celana dalam birunya, dan kemaluannya yang sudah tegang sekali langsung nongol seperti sudah ga sabar ingin menyodokku. Ga usah disuruh, aqu langsung jongkok, tanganku memegang batangnya dan ternyata masih menyisa sekitar 5 – 7 senti. Aqu jilat kepala kemaluannya terus aqu kulum-kulum kemaluannya. Dia mulai menikmati permainanku, “Oke.. terus.. terus.. Yeah..” Ternyata ada juga lelaki yang suka berdesah-desah kayak gitu kalau lagi nge-sex. Aqu berhenti sebentar,
“Belum dijawab?”
“Oh, sorry. Nama gue Jeff.”
Dia menjawab sambil terus merem-melek menikmati kemaluannya yang aqu kulum dan kuhisap-hisap. Kulihat-lihat sepertinya aqu kenal suaranya.
“Elo tinggal di sini juga ya, elu yang lusa kemarin ngentot di halaman villa?”
Jeff terkejut juga waktu aqu ngomong gitu.
“Memang elu tahu dari mana?”
Aqu nyengir terus aqu teruskan lagi menghisap kemaluannya yang sudah basah sekali dengan liurku.

Aqu berhenti lagi sebentar, “Gue lihat elu. Gila lu ya! berdua ngentotin cewek, keliatannya masih kecil lagi.” Jeff nyengir, “Itu adik kelas gue, dia baru 15 tahun, namun bodinya oke sekali. Gue ajakin ke sini, dan gue entot bareng Si Lex. Dia sendiri sepertinya suka digituin dengan kita berdua.” Aqu ga meneruskan lagi, aqu berhenti dan langsung cari posisi yang enak buat nungging. Jeff mengerti maksudku, dia langsung menyodok kemaluannya ke kemaluanqu bareng dengan suara eranganku. Terus dia mulai mengocok, mulanya sih pelan-pelan terus tambah cepat. Terus dan terus, aqu mulai merem-melek dibikinnya. Terus dia cabut kemaluannya, aqu digendong dan dia masukkan kemaluannya lagi ke kemaluanqu. Terus dia mengocok aqu sambil bediri, seperti gaya ngocoknya Tom Cruise di film Jerry Maguire. Kemaluanqu seperti ditusuk-tusuk keras sekali dan aqu makin merem-melek dibuatnya. Dan akhirnya aqu ga tahan lagi, aqu kejang-kejang dan aqu menjerit panjang. Pandanganku kabur, dan aqu pusing. Aqu hampir saja jatuh kalau Jeff ga cepat-cepat memegangi pinggangku.

Aqu lagi nikmati puncak kepuasanku, tiba-tiba seorang sedang mendekatiku, sepertinya sekarang dia nafsu sekali gara-gara mendengarkan desahan-desahanku. Dia sudah telanjang dan kemaluannya sudah tegang sekali. Aqu tahu dari mukanya kalau dia sedikit kasar, makanya aqu ga banyak cing-cong lagi, aqu langsung maksakan bangun dan jongkok meng-”karaoke”-in kemaluannya. Kemaluannya sih ga besar-besar sekali, namun aqu ngeri juga melihat otot-otot di sekitar paha dan pantatnya. Jangan-jangan dia kalau ngocok sekeras-kerasnya. Bisa-bisa kemaluanqu jebol.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Ngentot dengan Adik Temanku yang Masih Perawan di Kamar Asrama

Lama juga aqu meng-”karaoke”-in kemaluannya, dan akhirnya dia suruh aqu berhenti. Aqu menurut saja, dan langsung ambil posisi menungging. Aqu sudah pasrah kalau dia bakal menyodok-nyodok kemaluanqu, namun kali ini tebakanku salah. Dia ga masukkan kemaluannya ke kemaluanqu, namun langsung ke anusku. “Ah.. aduh..” anusku sakit soalnya dengan sekali ga ada persiapan. Namun rupanya Lex ga peduli, dia tetap maksakan kemaluannya masuk dan memang akhirnya masuk juga. Walaupun kemaluannya kecil namun kalau dipakai nyodok anus sih ya sakit juga. Benar dugaan aqu, dia kalau nyodok keras sekali terus ga pakai pemanasan-pemanasan dulu, langsung kecepatan tinggi. Aqu cuma bisa pasrah sambil menahan perih di anusku. Dadaqu goyang-goyang tiap kali dia menyodok anusku, dan sepertinya itu membuat dia makin nafsu. Dia tambah kecepatan dan mulai meremas dadaqu.

Benar-benar kontras, dia mengocok anusku cepat dan keras, namun dia meremas dadaqu halus sekali dan sesekali melintir-melintir putingnya. Mendadak rasa sakit di anusku hilang, aqu mulai merasakan nikmatnya permainan tangannya di dadaqu. Belum habis aqu nikmati dadaqu diremas-remas, tangan kirinya turun ke kemaluanqu dan langsung menyambar klitorisku, mulai dari digosok-gosok sampai dipelintir-pelintir. Rasa sakit kocokannya sudah benar-benar hilang, sekarang aqu cuma merasakan nikmatnya seluruh tubuhku.

Aqu mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya aqu sampai ke puncak yang kedua kalinya hari itu, dan berdenganan puncak kenikmatanku, aqu merasakan cairan hangat muncrat di anusku, aqu tahu Lex juga sudah sampai puncak dan aqu sudah lemas sekali, akhirnya aqu ambruk. Mungkin aqu kecapaian soalnya tiga hari ini aqu terus-terusan mengocok, ga dengan satu orang lagi, selalu berdua. Aqu masih sempat lihat Jeff menggendong aqu sebelum akhirnya aqu pingsan. Aqu ga tahu aqu dimana, namun waktu aqu bangun, aqu terkejut melihat Hari lagi mengocok cewek. Cewek itu sendiri sibuk mengulum-ngulum kemaluannya Satrio. Aqu paksakan berdiri, dan waktu aqu lihat di sofa sebelah, ada pemandangan yang hampir dengan, bedanya Jeff yang lagi sibuk mengocok cewek dan aqu lihat-lihat ternyata cewek itu Sindy. Sindy juga sibuk mengulum-ngulum kemaluan Lex. Aqu jadi bingung, namun aqu tetap diam sampai mereka selesai main.

Terus aqu dikenali dengan cewek mungil yang tadi nge-sex bareng Hari dan Satrio, namanya Angel. Aqu baru ingat kalau tadi aqu pingsan di air terjun habis muasin Jeff dengan Lex. Ternyata Jeff bingung mau bawa aqu ke mana, kebenaran Hari dan Satrio lewat. Mereka sempat ribut sebentar, namun akhirnya aqur lagi, dengan catatan mereka bisa menyicipi Angel ceweknya Jeff dengan Lex. Angel sendiri setuju saja dengan ajakan Hari dengan Satrio, dan waktu mereka lagi mengocok, Sindy kebetulan lewat. Satrio memanggil dia dan dikenali dengan Jeff dan Lex, terus mereka akhirnya nge-sex juga. Makin asik juga, sekarang tambah lagi satu cewek dan dua lelaki di kelompok kita, dan seterusnya kita jadi sering main ke villa itu untuk muasin nafsu kita masing-masing. Dan kita kasih nama kelompok kita “MAGNIFICENT SEVEN”.

author