Cerita Sex: Jilat Tubuh Mulus Cewek Arab

No comment 2636 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa –Perawakan susi kurang lebih tinggi 165 cm, 50 kg dengan kulit putih, rambut hitam lurus sebahu, sama-sama keturunan arab sepertiku juga dan berumur 20 tahun merupakan mahasiswa di sebuah universitas swasta di Bandung, ukuran payudaranya 34B dibalut dengan kaos ketat sungguh ideal.

qatargirls-44
Kami pun mulai mengobrol panjang di kafe tersebut dan pendek kata kami pun mulai serius tentang hubungan kami yg mungkin lain dari biasanya, yaitu kegiatan BDSM. Kuketahui juga susi sudah tdk perawan karena pernah ML dengan cowonya yg sekarang tdk tahu ada dimana.
susi terlihat sedikit nakal dan sesuai harapanku yg sedang mendalami bidang ini. susi menganjurkan di tempat kosnya, karena katanya dalam 2-3 hari ke depan tdk ada orang lain karena pada mudik liburan. Aku pun setuju dan berjanji besok aku akan langsung datang ke tempat kosnya.
Hari yg telah ditentukan telah datang, aku pergi menuju 711, swalayan dekat kampusku, di sana aku membeli beberapa gulung tali pramuka, jepitan jemuran 1 pack, lilin merah besar yg biasa ada di kuil-kuil 2 buah, dan beberapa minuman. Siaplah aku menuju cafe yg telah ditentukan, aku dengan perlengkapan aku di tas sudah lengkap plus belanjaan tadi.
Meluncurlah aku dengan menggunakan motor bebekku ke tempat kos susi. Aku mulai memperlahan laju motorku dan melihat alamat yg tertera di HP-ku, setelah beberapa lama kutemukan sebuah rumah tinggal yg dijadikan tempat kos. Aku langsung menelepon susi agar keluar dari tempat kosnya.

Lalu aku melihat susi keluar dengan pakaian senam yg masih basah keringat hingga membuatnya makin aduhai.
“Sori gue baru beres joging nih, masuk.., masuk”, kata susi sambil membukakan gerbang.
Akupun mulai masuk dan celengak-celinguk melihat kos-an yg berisi 4 kamar layaknya rumah tinggal biasa.
“Beneran kaga ada sapa-sapa neh?”, tanyaku.
“Kaga ada, pembokat dah pulang dari tadi, now cuma ada lo ama gue, kapan neh mulainya?”, Jawab susi.
Aku langsung mengeluarkan tasku dan susi langsung ikut melihat barang yg kubawa.
“Hehe.. kok gituan aja seh, disini juga ada kaga usah repot-repot”, kata susi sambil mengeluarkan kotak di kamarnya.
“Pake semua yg lu mau ke gue” jawabnya sambil memberikan kotak tersebut padaku.
“Wahh.., gila lo dapat dari mana semua alat ini?”, tanyaku karena baru kali ini aku melihat alat-alat penyiksaan yg biasanya hanya aku liat di internet.
“Jangan rewel, cepetan donk gue dah ga sabar lu bisa apa aja”, jawabnya.
Tanpa menjawab karena aku masih keasyikan melihat “barang-barang” yg sebagian masih tdk kuketahui fungsinya.
“OK., siplah ayo kita mulai”, jawabku.
Permainan dimulai, susi hanya duduk melihatku meninjau tempat yg ingin aku gunakan.
“Sini lo, gue dapat tempat yg enak buat nyiksa lo”, kataku sambil tersenyum melihat lapangan basket dengan 1 tiang dengan luas 4×5 meter di ruangan tertutup belakang kos.

Aku mulai mengambil bambu bulat berukuran 1 1/2 meter dengan diameter 10 cm dan mengikat tangan susi bersama bambu tersebut. Hasilnya tangan susi terentang ke arah berlawanan seperti orang yg disalib. Belum puas dengan itu aku mengikat “shibari”, sehingga payudaranya tampak menonjol.
susi merasa kesakitan terlihat dari wajahnya yg mulai merah, tapi saat kutanyakan susi menjawab
“Lanjutin aja gue nikmatin kok, jangan sungkan-sungkan gue kaga marah gue hepi kok” sambil tersenyum.
Akupun tdk tanggung-tanggung lagi langsung mengambil sepatu hak tinggi merahnya sekitar 10 cm, penjepit yg telah kubeli, ball gag di kotak susi, dan sun block untuk kuoleskan pada kulit susi karena rencanaku akan kujemur susi di lapangan tersebut dalam waktu cukup lama, matahari masih cukup terik meskipun jam sudah menunjukan pukul 4 sore.
Setelah kuoleskan pada sekujur tubuhnya, aku memasangkan ball gag ke mulutnya.

Aku yakin susi tdk akan bisa bersuara lagi. Kemudian sepatu tingginya untuk memberikan efek pegal dan kejang, aku mulai membuat simpul di bambu yg menempel di punggung susi untuk digantung di tiang ring. Akhirnya susi hanya menapak pada hak sepatu yg kecil dengan badan tergantung tanpa daya. Terakhir aku memasangkan penjepit di kedua belah puting, di ketiak, di paha, di perut, di bagian kemaluannya.
“Erghh. Hh.. Hh..”, kudengar erangan susi tapi tdk kuhiraukan.
“Ok gue tinggal dulu, gue laper mo makan”, kataku dengan senyuman sambil memasangkan 2 jepitan tersisa di daun telinganya, langsung terlihat susi berusaha melepasnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tapi percuma karena jepitannya cukup kuat.
Maka tinggalah susi sendirian, karena aku sudah pergi untuk melihat-lihat “lokasi” berikutnya, lalu aku benar-benar pergi membeli makan tak jauh dari situ ada tempat makan nasi campur yg sudah jadi langgananku meskipun aku tdk kuliah di daerah tersebut.
Tak terasa aku sudah makan dan nonton TV, serasa pemilik rumah tersebut hingga sudah 1 jam lebih aku meninggalkan susi. Sebenarnya aku bisa saja berbuat jahat, tapi jika aku hanya ingin kesenangan materi, aku sudah berkecukupan .

Kutengok susi yg sudah bersimbah keringat semua baju senamnya sudah basah. Pertama kulepaas jepitan-jepitan yg terpasang.
“Aarrgg.. Hh..”, desah susi karena aliran darahnya berjalan lagi.
susi terlihat pucat, lemah sekali kehabisan tenaga karena “upacara” tadi. Kulepaskan juga ikatan pada bambu tapi tali shibari yg mengelilingi tubuhnya tak kulepas malah kutekukkan pergelangan tangan susi ke bagian belakang dan kuikat, dadanya makin menonjol.
Sebenarnya aku cukup prihatin karena walau tak kuikatpun susi sudah pasrah dan tdk akan kabur.
Aku tanya padanya,
“Lo masih kuat gak?”, sambil kulepas ball gag yg menyisakan garis merah di pipinya.
“Gak papa kok gue cuma cape aja”, jawabnya sambil tersenyum kecil.
Kemudian kupapah dirinya ke kamarnya lalu kusuapi makan dan minum dengan kondisi tangan masih terikat.
“Sudah siap untuk selanjutnya?”, tanyaku setelah memberinya waktu istirahat setengah jam yg susi lewatkan untuk rebahan di tempat tidurnya.
“Ok”, jawabnya lemah.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Gadis Penjual Minuman

Lalu akupun mulai membuka semua ikatan yg ada di tubuh susi. Meskipun aku sudah tdk tahan ingin ML dengan susi aku masih kasihan melihat keadannya. Akupun memandikannya sambil meraba-raba sekujur tubuhnya dan membincangkan apa yg diinginkan susi untuk permainan berikutnya.
Jam telah menunjukkan pukul 7 malam saat aku mengajak susi makan keluar, susipun menyetujuinya dan susi tdk kuperbolehkan memakai pakaian dalam baik bra ataupun CD, sebelum susi menjawab, aku sudah memainkan lidahku di puting susunya yg mulai menegak dan terdengar desahan susi.
“Lo boleh ikut tapi kukenakan ini ya”, kataku sambil mengambil rantai kecil dengan jepitan berskrup di kotak peralatan BDSM susi.
Kukenakan di sebelah putingnya yg telah menonjol lama, lalu kukencangkan skrupnya sehingga aku yakin tdk akan lepas, tdk hanya itu, aku juga mulai foreplay di selangkangan susi dengan lidah hingga cukup membuat susi terangsang dan hampir orgasme karena kumainkan jemariku juga di kemaluannya. Aku berhenti tapi susi merengek dan kukatakan agar bersabar, sambil tersenyum dan mengambil dildo berbentuk kapsul yg biasa ada di film jepang dengan kekuatan 2 batere kecil.

“Gue pakein ini juga OK”, ujarku sambil memasukkan dildo itu dalam memeknya yg sudah basah sehingga mudah dimasuki.
Terakhir kuambil tali dan merapatkan susi dan mengikat paha atasnya sehingga mainanku akan tetap berada di dalam kemaluan susi. Aku lalu mengambil rok hitam ketat sebatas lutut untuk menutupi badan bawah susi, aku tertawa kecil ketika aku menyuruh susi berjalan bak artis melenggok di cat walk, karena susi harus menyilangkan kakinya akibat ikatan tadi.
“Sip.. Deh OK kita pergi”, ajakku sambil kukenakan jaket bulu untuk menutupi badan susi yg hanya dihiasi rantai.
Kami keluar dengan motorku. Sebelum berjalan, aku menyalakan switch on pada mainan yg “tertanam” tadi sehingga bergetar dan membuat susi kehilangan tenaga. Di sepanjang jalan susi memelukku dengan tangan yg tdk berhenti meremas-remas jaket aku.
“Dah mulai basah ya? Ga tahan ya?”, godaku. susi tdk menjawab.
Tak lama kemudian kami berhenti di tukang jagung bakar di daerah Dago dan memesan makanan dan minuman. Kulihat susi agak salah tingkah dan seperti maling takut ketahuan polisi, banyak gerakannya yg tdk lazim dan aku mengingatkannya sambil memeluknya.
“Anter gue beli pulsa ya di BEC”, suatu tempat elektronik di Bandung, pintaku.

susi hanya mengiyakan dan aku sengaja membawa jalan-jalan karena aku tahu bahwa semakin banyak gerakan maka susi makin terangsang jadinya. susi berusaha bertindak sebiasa mungkin. Perlu diketahui pacarku masih pulang kampung dan aku sudah biasa jalan dengan cewe-cewe sehingga tdk takut kalau kepergok teman. susipun karena baru masuk kuliah dia belum punya banyak teman dan dia bukan asli orang Bandung.
Pendek cerita kami berdua sudah sampai di tempat kos susi lagi dan aku segera membuka jepitan di putingnya dan mengeluarkan dildo yg sudah basah. Kami berdua tdk tahan lagi hingga langsung saja kami melakukan ML dan setelah setengah jam aku mengeluarkan sperma di kondom, Kemudian dilepasnya kondom tersebut dan kusuruh susi yg sudah terkulai lemas mengisap-isap kemaluanku.
“Aarrgg.. ngghh”, erangku keenakan karena baru pertama kali mengalaminya, biasanya hanya “ngocok” di kamar .
Aku menggapai tasku dan kuambil lilin yg tadi kubeli, dan menanyakan..
“Pake ini kuat gak?”
“Boleh dicoba tuch”, jawabnya dengan nada menantang hingga cukup membuatku bersemangat kembali.

Tanpa ragu aku kembali dengan membawa tambang berwarna merah, dan mulai dengan mengikat kedua tangan susi di belakang punggungnya hingga ke siku, terus ke depan tubuh hingga membentuk “breast-bondage” yg ketat. Lalu kurebahkan susi menungging di lantai, dan siksaan dimulai dengan mencambuki susi dengan cambuk kulit, tapi tdk terlalu keras dan hanya bertujuan merangsangnya. Kemudian tubuhnya kubalik telentang. Pergelangan kaki kirinya diikat menyatu dengan pangkal paha, yg kemudian ditambatkan ke pinggir ruangan, sedangkan ikatan pada pergelangan kaki kanan ditambatkan ke atas, sehingga bagai sedang memamerkan memeknya.
Kembali kucambuki tubuhnya dalam posisi begini. susi mengerang keras dan meronta-ronta tapi ikatanku cukup kuat untuk dilawan seorang cewe hingga akhirnya susi hanya bisa pasrah. Selanjutnya tubuh susi kuikat dengan model “shibari”, di atas bondage-bra, sehingga payudaranya tampak menonjol. Dengan kedua tangannya yg terikat ke belakang, dia hanya bisa pasrah menerima cambukan bertubi-tubi pada kedua payudaranya.
Begitu juga ketika kedua tonjolan itu masing-masing kujepit dengan penjepit jemuran berukuran besar. Kembali ujung-ujung cambuk mendarat ke arah perut dan payudaranya. susi menjerit-jerit kesakitan, namun aku tetap tdk peduli dan terus mengayunkan cambuk, karena aku yakin dia juga menikmatinya walau sulit dijelaskan dari wajahnya di balik rasa sakitnya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Nafsu Terlarang

Kini pada ronde berikutnya aku membaringkan susi di tengah ruangan, lalu aku berjalan mengitarinya dan mengambil semacam minyak untuk dioleskan ke sepasang payudaranya. Kemudian tetesan-tetesan lilin panas jatuh menimpa puting dan seluruh daerah payudaranya. Tubuhnya meronta-ronta berkelojotan menahan panas dan rasa nyeri. Setelah itu lapisan lilin itu kukelupas sehingga menghasilkan bentuk gundukan menyerupai payudaranya.
Tak tahan mendengar rintihan dan erangan susi ditambah melihat gerakan susi, “adik”-ku bangkit kembali dan kulepaskan ikatan tangan dan kaki susi lalu kuambil dildo berbentuk kemaluan pria berukuran sedang dan kembali kusuruh susi untuk menghisap ko0ntol (blow-job) aku.
Sebelumnya aku sudah memasangkan dildo ke anusnya dan kemudian meneteskan lilin panas ke pinggulnya. Rangsangan dildo dan panasnya lilin membuat susi kian agresif melakukan blow-job nya.

Akhirnya aku mengeluarkan “lahar panas”-ku untuk kedua kalinya. Aku merebahkan susi di ranjangnya dan tak terasa kami tertidur pulas karena kecapean, untung saja pada saat pulang dari BEC tadi kami sudah mengunci rapat semua pintu dan jendela.
Jam telah menunjukan pukul 5 dini hari. susi masih tertidur pulas. Aku mengingat kejadian semalam sambil menyiapkan mie instant untuk sarapan pagi lalu setelah siap kubangunkan susi, lalu kami makan sambil mengobrol di ruang makan.
“Gimana semalem?”, tanyaku.
“Gila lo puting gue masih sakit gara-gara lilin, tanggung jawab lo”, jawabnya sambil tersenyum.
Dari air mukanya aku tahu bahwa susi menikmatinya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, lalu aku mengajak susi mandi bersama tapi tentu saja tak lepas dari aktifitas BDSM kesukaan kami berdua.
susi mulai kuikat bersujud di kamar mandi dan lalu kusuntikkan cairan ke dalam anusnya dengan menggunakan suntikan besar. Tdk puas dengan suntikan, aku memasukkannya dengan menggunakan selang infus.

Setelah 1 liter air di tabung habis, tabung kembali kuisi penuh dan terus dialirkan memasuki anusnya. susi menggeliat tanpa daya menahan rasa mual akibat air yg menyesakkan tersebut.
Setelah berliter-liter air memasuki tubuhnya, selang kulepas. Karena sudah penuh, maka air itu memancur kembali keluar dari anusnya. Demikian kulakukan terus berulang-ulang, hingga akhirnya yg keluar bukan lagi hanya air bening, namun sudah bercampur dengan kotorannya. Aku sedikit merasa jijik tapi segera kubersihkan dan kutaruh badan susi yg masih terikat di dalam bath-tub dan mulai merendamnya. Selama itu aku mandi dan menyiapkan diriku sendiri untuk acara selanjutnya. Setelah selesai, susi kulepaskan ikatannya dan kusuruh untuk bersiap-siap juga.
susi keluar dari kamar mandi dengan handuknya dan akan menuju kamarnya untuk berpakaian, tapi aku melarangnya dan langsung berkata bahwa aku akan pergi dan aku ingin memajang dirinya dalam posisi bondage yg lain. susi bertanya aku akan pergi kemana, karena dia takut kalau aku kabur, tapi aku memberi jaminan dan janji bahwa aku akan balik lagi, maka susi pun pasrah mau menerima siksaan berikutnya.

Kini susi terbaring di lantai. Kedua tangannya kuikat terpisah masing-masing ke arah bawah, sedangkan kedua kakinya juga kuikat terpisah, namun masing-masing ke atas kepala, sehingga tubuhnya tertekuk sedemikian rupa dengan pinggul di udara, dan kedua lutut mengapit kepalanya. Dalam posisi seperti ini, dia bagaikan sedang memamerkan lubang duburnya yg menengadah ke udara. Tentu saja kondisi ini menimbulkan rasa pegal yg luar biasa.
Tak lupa aku memasangkan ball gag di mulutnya dan kutaruh mangkuk untuk menampung air liur yg keluar dari mulutnya. Pergilah aku dan kukunci pintu kamarnya dan rumah kos itu untuk beberapa saat. Aku cukup khawatir meninggalkan susi sendirian dengan posisi tersebut, untung saja teman yg berjanji akan menemuiku membatalkan dan aku langsung meluncur ke tempat kos susi kembali dan itu juga sudah hampir 1 jam sejak kutinggalkan susi.

author