Cerita Sex: Di Bawah Pengaruh Pil Ekstasi

No comment 4166 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Tante Lina, usianya 35 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup cantik, dgn kulit putih bersih. Badannya sangat seksi, padat, dan berisi. Yg menjadi pusat perhatianku adalah buah dadanya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dgn postur badannya. Aku sering membaygkan jika suatu waktu dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum pentil susunya.

cerita sex

Malam itu aku sedang menunggu Taksi mau pulang, karena mobil yg biasa aku pakai, dipinjam adik. Aku baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit aku menunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Tante Lina di dalem mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya,
“Mau kemana An..? kok sendirian, mau aku antar nggak?”
Tanpa basa-basi aku lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita mengobrol di dalem mobil. Singkat kata Tante Lina mengajakku ke Diskotik, waktu itu malam minggu.

Sesampainya di Diskotik. Kita mencari meja yg kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.
“Aku sedang pesan lagi satu untuk kita berdua,” kata Tante Lina. Untuk “on”, aku memang butuh dorongan Extasi, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Tante Lina. Ternyata takaran satu setengah baru cukup untuk Tante Lina. Ternyata Tante Lina suka triping.

Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil Extasi, yg satu aku bagi dua. Tante Lina segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Tante Lina terlihat semakin on. Maka kita berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalem diskotik yg penuh dgn orang yg sama-sama triping.

Waktu aku berdiri dan melihat Tante Lina “ON” berjoget dgn erotisnya, tak lama kemudian Tante Lina menghampiri dan merapatkan badannya yg mulus itu ke depanku. Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap. Dalem keremangan dan kilatan lampu diskotik, ia nampak manis dan anggun. Aku kembali menyibukkan diri dgn bergoyg dan memeluknya belakang badannya. Sesekali tangan ku dgn nakal meremas dada Tante Lina yg masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yg masih terbalut BH.

Tanganku akhirnya dapat merasakan halus dari buah dada Tante Lina, jari-jari ku mencari-cari pentil buah dada Tante Lina dgn menyusup ke dalem BH Tante Lina. Aku remas dada Tante Lina dgn perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Tante Lina berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dgn bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yg keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak pentil susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.

Sementara Tante Lina hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, aku terus mengelus dadanya sehingga membuat Tante Lina dari gerakan badannya Tante Lina memang kelihatan ingin sekali dipuasi, terlihat dari pantatnya yg montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang.
“Kamu sudah on berat ya?” katanya. Aku tersenyum, kupeluk badannya dan kucium pipinya.

Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan Diskotik akan terus buka sampai pukul 05.00. Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Tante Lina kelihatannya sudah mulai “Droop”.

“Honey aku sudah lelah,” keluh Tante Lina.
“Ah, masa lelah, honey,” ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
“Honey.. kita pulang yuk..,” katanya. “Aku ingin istirahat”.
“Pulang ke mana?” tanyaku.
“Ke mana aja” jawabnya. Aku baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.
“Aku sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini” ujarnya.
“Kalau begitu. kita ke sana”
“Tapi tunggu, aku mau bilang temen dulu yg lagi digaet lelaki di pojok sana,” katanya.

Tepat pukul 02:30 dini hari kita keluar dari Diskotik tersebut dgn rasa puas dan senang terus kita menuju ke hotel. Sesampainya kita dikamar Tante Lina langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yg bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, aku hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yg ada tepat didepan jendela. Sambil menari dan melucuti pakaiannya Tante Lina menghampiri aku dan segera jongkok didepan aku sambil membuka resleting celana aku, aku hanya memperhatikan apa yg akan dilakukannya.

“Wowww.. besar dan kencang sekali.. buat Lina ya..” Kemudian Tante Lina mengulum kemaluanku yg menegang sejak tadi.
“Ooogghh.. sshh.. enak sekali San..”, ucapku.

Dia mengeluarkan kemaluan aku yg sudah setengah tegang dan langsung diisapnya dalem-dalem. Jago memang Tante Lina dalem memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar aku, setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin kemaluan aku, Tante Lina melemparkan badannya ke atas ranjang, dan jatuh telentang. Langsung aku menyergapnya, dan kita bercumbu dgn dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh Extasi.

Kita berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dgn lidahku. Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap kemaluannya yg ditumbuhi rambut halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran kemaluan. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dgn penuh perasaan.

“Ooh.. sshh.. aahh..!” desah Tante Lina.
“Honey..,” dengusku sambil terus mencumbunya.

Aku menarik tanganku dari kemaluan Tante Lina. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran buah dadanya. Berputar sampai akhirnya meremas bagian pentilnya. Akhirnya anganku tercapai.

“Oooh.. terus.. Beibs..!” desah Tante Lina lagi.

Aku jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap pentilnya.

“Oohh.. honey..!” Tante Lina merintih nikmat.

Tante Lina bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk kemaluanku dan mengelusnya dgn tekanan yg membangkitkan birahi. Tante Lina memutarkan badan di atas badanku yg telentang. Ia menciumi dan menjilati kemaluanku sementara kemaluannya disumpalkan ke mulutku.

Akhirnya Tante Lina menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Pentilnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur badannya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yg sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dgn lembut kuangkat badannya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menygga badan bagian bawahnya. Membuat pahanya yg putih mulus kian menantang.

Terlebih ketika bukit venus dgn rambut-rambut halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang waktu lidahku kemudian jemariku mengelus-elus rambut-rambut itu. Dia menjerit waktu kucoba menguak kemaluannya dgn jari telun-jukku. Otot pahanya meregang waktu kuhisap clitorisnya.

“Masukkan kemaluanmu, cepat honey,” rintihnya.
“Aahh..!” rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan.

Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Tante Lina sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat kemaluannya yg sudah becek. Kubalikkan badannya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dgn jari tengahku.

“Ouuwww.. ooh.. sshh.. honey, cepet masukan!” katanya memelas-melas.

Semakin Tante Lina memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Tante Lina sampai meneteskan air mata menahan orgasme.

Dipegangnya kemaluanku yg sudah membesar ini. Dia bimbing dan kemaluanku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas badanku. Kuarahkan kemaluanku ke lubang yg basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dgn penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemeretaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yg plong. Membuat dia menjerit, merintih keras.

“Acchh.. sshh..”

Ketika kupacu dia dgn irama yg lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan diantara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dgn naik turunnya badanku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dgn wajah kuyu. Dari keringat kita yg menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dgn menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak badanku yg di atasnya. Tak lama kemudian Tante Lina merubah posisi menduduki pahaku, memegang kemaluanku dan dimasukkannya pelan ke kemaluannya.

“Uppss.. ooh..” rasanya nikmat sekali kemaluanku didalem kemaluannya. Tante Lina terus bergoyg naik turun.
“Ahh.. enak..”erangku.

Tante Lina terus bergoyg sambil menjerit kecil. Dadanya yg naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot kemaluannya berkontraksi meremas kemaluanku

“Oghh.. aku sudah keluar honey..” erang Tante Lina.

Tiba-tiba, pintu kamar ada yg mengetuk.

“San.. San!” suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Tante Lina.
“Teruskan, honey..! Itu temanku, biarkan saja,” kata Tante Lina.
“San..!” pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan.
“Masuk aja, Lin, enggak dikunci, kok” ujar Tante Lina.
“Huuss..!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?” sergahku.
“Engga apa-apa, cuek aja..” kata Tante Lina enteng sambil tersenyum manis.

“Wah, rupanya lagi pada asyik nih,” kata Lindsay begitu membukakan pintu dan masuk ke dalem kamar.
Aku masih dalem posisi jongkok dan kemaluanku masih di dalem kemaluan Tante Lina, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lindsay.
“Mana lelakimu tadi?” tanya Tante Lina.
“Tahu kamu pulang ke hotel bawa lelaki, yah aku dibawa ke hotel lain” sahut Lindsay.
Aku masih bengong mendengar percakapan dua perempuan cantik itu. Tiba-tiba tangan Tante Lina menarik tanganku yg tersampir di pahanya.
“Ayo honey goygin kemaluanmu, jangan kalah sama Lindsay” desak Tante Lina.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Terlena Dengan Kenikmatan

Aku berdiri dan mengangkat badan Tante Lina ke tengah tempat tidur. Kemaluanku yg sudah tegang dari tadi, segera aku teTantekan lagi ke dalem lubang kemaluan Tante Lina yg sudah tak perawan tapi masih terasa lengket. Kita sama-sama merasakan kehangatan yg nikmat.

“Yg dalem.. cepat.. ah.., enak..” pinta Tante Lina. Aku pompakan kemaluanku dgn penuh gairah.

Sementara Lindsay pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin berendam di bathtub. Pengaruh Extasi membuat daya tahan persenggamaanku dgn Tante Lina cukup lama. Berbagai gaya kita lakukan. Tante Lina beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku waktu mencapai orgasme. Sementara kemaluanku masih anteng dan melesak-lesak ke dalem kemaluan Tante Lina.

“Aduh.. capek, honey..!” rintih Tante Lina.
“Istirahat dulu.. yah..?”
“Sabar, dong, Beibs. Aku sangat menikmati hangatnya kemaluanmu,” rayuku.

Tante Lina lantas menggelepar pasrah, tak kuasa lagi menggerak-gerakkan badannya yg lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kita sudah bermandikan keringat. Tapi kemaluanku masih tegang, belum mau memuntahkan air mani. Akhirnya aku kasihan juga sama Tante Lina yg sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.

Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas kemaluanku dari kemaluan Tante Lina. Dgn langkah pelan supaya tak membangunkan Tante Lina dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lindsay sedang berendam di bathtup dgn badan bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yg merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtub. Aku menghampirinya dgn kemaluan yg masih tegang. Mata Lindsay terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup, menghadap ke arahnya.

“Mana Lina?” tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan kemaluanku yg ngaceng.

“Dia tidur.. jangan berisik,” kataku sambil naik ke dalem bathtup dan langsung menindih badan Lindsay yg sintal dan pasrah. Kita bergumul dalem cumbuan yg hot.

“Lin kamu diatas yah.. ”

Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dgn segera di pegangnya kemaluanku sambil diarahkan kekemaluannya, kulihat kemaluannya indah sekali, dgn rambut-rambut pendek yg menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dgn kemaluannya.

“Aaawww.. enak banget kemaluan kamu Lin..”
“Enak kan mana sama punya Lina..?”

Katanya sambil memutar pantatnya yg bahenol. Rasanya kemaluanku mau patah ketika diputar didalem kemaluannya dgn berputar makin lama makin cepat.

“Ah.. Lin.. enak banget ah..” Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap.
“Ton.. aku mau keluar..”
“Rasanya mentok.. ah..”

Memang dgn posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap kali aku menyodok kemaluannya.

Kugenjot kemaluannya dgn cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yg dijepit erat kemaluannya.

“Lin mau keluar..”

Kupeluk erat dia sambil melumat pentilnya. Kupompa kemaluannya sampai kita tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yg sampai membangunkan Tante Lina. Tante Lina tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dgn badan bugil dan matanya menatap aku dan Lindsay yg lagi bersebadan.

“Gitu yah, enggak puas dgn aku kamu dgn Lindsay,” hardik Tante Lina dgn nada manja, pura-pura marah.

Eh, malah Tante Lina kini ikut naik ke dalem bathtup.

“San, ayo gantian, aku sudah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Lelakimu ini terlalu perkasa,” kata Lindsay.
“Ayo honey, sekarang aku akan membuat kemaluanmu muntah,” kata Tante Lina.

Segera Tante Lina hampiri aku di dalem bath yg penuh dgn air, ditonton Lindsay yg duduk di ujung bathtup sambil membasuh kemaluannya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Tante Lina. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang kemaluannya yg basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan. Kutekan kemaluanku lebih dalem lagi, dia menggoygkan pantatnya sambil menahan sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot bila kutarik dan kumasukan kemaluanku di lubang kemaluannya, karena suara air kali ya. Tante Lina semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goygkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.

“Aduh Beibs aku nggak tahan lagi ingin keluar..”.
“Aduh honey.. terus..”

Tante Lina terkulai lemas dan kemaluannya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan kemaluannya yg keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yg erotis pada waktu Tante Lina akan orgasme.

“Aduh, honey, aku kalah lagi nih, sudah mau orgasme!”

Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalem kemaluan Tante Lina. Aku masih terus menggenjot kemaluannya. Wajah Tante Lina terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yg melemah itu, genjotanku dipercepat.

“Honey, aku mau keluar nich..”
“Keluarkan di dalem aja honey, kita keluarin bersamaan, Lina juga mau keluar.”

Dan Akhirnya air maniku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yg diikuti pula dgn orgasme Tante Lina. Air maniku keluar dgn derasnya ke dalem kemaluan Tante Lina dan Tante Lina pun menikmatinya.

“Akhirnya aku berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan honey,” kata Tante Lina sambil memeluk dan menciumi bibirku.

Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yg membuatku ketagihan. Kita bertahan pada posisi itu sampai kita sama-sama melepaskan air mani kita.

“Lin.. emut kemaluanku honey” kataku lalu mencabut kemaluanku dari kemaluannya Tante Lina. Lalu Lindsay melumat 1/2 kemaluanku hingga pejuhku habis keluar.
“Mhh.. ah.. enak sekali pejuhmu” katanya sambil mengocok ngocok kemaluanku mencari sisa air pejuhku.
“Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, sudah mulai menggeliat!” kataku, menggoda.
“Hhhaah..?” Tante Lina dan Lindsay terkesiap bersamaan kompak.

Kemudian aku segera keluar dari bathtup mendekati Lindsay dan menyuruhnya membelakangiku. Dari belakang aku mengarahkan kemaluanku ke kemaluannya yg sudah basah lagi karena nafsu melihat aku dan Tante Lina.

Sleepp.. bless..

Aku langsung memasukkan kemaluanku terburu buru, karena sempit waktu membuat kesakitan Lindsay.

“Aduuh pelan pelan dong Beibs.., Lindsay sakit nih” katanya agak merintih.
“Sorry Honey aku terlalu nafsu nih” kataku lalu tanganku menyambar susunya yg menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju-mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.

“Shh.. ahh.. shh..” kata Lindsay setengah merintih kenikmatan.
“Lin.. kemaluanmu sempit.. nikmat Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kita. Sleep.. bles.. cplok.. cplok..

LIHAT JUGA :  Cerita Sex Dewasa: Sang Pejabat

irama persebadanan kita sungguh indah hingga aku ketagihan. Kita melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kita sama-sama sampai hampir bersamaan.

“Shh.. ahh.. Beibs, Lindsay sampai nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
“Iya Lindsay honey, aku juga sampai nih, didalem yah Beibs..” kataku lalu menghunjamkan kemaluanku dalem dalem dikemaluan Lindsay.
Seerr.. croot..croot kita keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kemaluanku dari kemaluan Lindsay.
kemaluanku terlihat basah dari air mani kita dan air kenikmatan Lindsay.

“Ugh.. Beibs enak banget..” katanya.

Lalu kita duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yg tadi kita lalui.

author